Kamis, 05 November 2015

The Ears


CHAPTER 1 : TELINGA KIRI ATAU TELINGA KANAN?

Aku benci ini! Aku selalu merasa sulit untuk tidur di malam hari. Aku mengidap insomnia. Padahal malam ini cuacanya sangat bangus untuk tidur. Di luar sedang hujan deras. Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan menuju dapur. Mungkin segelas susu hangat dapat membawaku ke alam mimpi, pikirku. Tapi setelah dari dapur aku menjadi tergoda untuk menonton tv. Aku pun berjalan ke ruang tv dan menonton tv. Aku mengganti-ganti channel tv. Semuanya berisi tentang acara-acara pemburu hantu dan ada juga yang film hantu. Ah, semuanya serba hantu. Mentang-mentang ini malam Jum’at. Aku terus mengganti channel tv sampai aku mendapat sebuah channel berita malam. Aku pun menonton channel itu.

“Seorang gadis remaja tewas terbunuh di rumahnya di perumahan Red Rose. Di duga pembunuhnya adalah tetangga korban sendiri. Korban bernama Angelina Wilson. Usianya baru 14 tahun. Pembunuh membunuh korban dengan cara dibor di bagian telinga korban. Hal itu terbukti dengan adanya bekas bor di telinga kanan korban.”

Aku terkejut mendengar berita itu. Perumahan Red Rose adalah perumahan yang kutinggali sekarang ini. Dan Angelina? Dia adalah tetanggaku. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui semuanya? Ah, mungkin pekerjaanku yang banyak membuatku terlalu sibuk sehingga membuatku jarang keluar rumah. Hmm… aku penasaran siapa pembunuhnya. Apa mungkin Matthew? Ia adalah tetangga di sebelah rumahku. Sikapnya yang aneh membuatku berpikir seperti itu. Matthew adalah seseorang yang sangat pendiam sekali. Setiap aku berangkat kerja ataupun pulang kerja, aku selalu melihat dia duduk di teras rumahnya sambil mengelus-elus kucing kesayangannya. Kucing itu selalu mengikuti kemanapun Matthew pergi. Terkadang Matthew menyeringai ke arahku. Mungkin ia bermaksud untuk menyapaku tapi aku pikir itu aneh.

“Kreeeeekkk…” aku mendengar suara pintu belakangku terbuka. Siapa itu?

Aku mengambil pistol untuk berjaga-jaga dan berjalan menuju ke dapur untuk melihat siapa yang membuka pintu. Aku menajamkan pendengaran dan pengelihatanku. Tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan tubuh pria di dekat jendela dapur. Aku berjalan mendekati bayangan itu. namun tiba-tiba…

“Meow!!” seekor kucing melompat ke arahku. Sial! Itu adalah kucing Matthew. Hmm, tidak
salah lagi. Pria itu pasti Matthew. Jangan-jangan ia ingin membunuhku juga? Ini tidak boleh dibiarkan! Aku terus mencari-cari di mana Matthew bersembunyi. Namun tiba-tiba ada yang menarikku ke dalam gudang. Itu dia Matthew! Matthew-lah yang menarikku ke dalam sini. Aku berusaha memberontak tapi ia malah menutup mulutku.

“Sshhh… jangan berisik, atau dia akan menemukan dan membunuh kita.” Ujarnya. Tapi aku tidak peduli dengan kata-katanya. Segera ku tarik pelatuk pistolku dan mengarahkannya ke arah Matthew. Ia tewas seketika. Aku tidak peduli siapa ‘dia’ yang di katakan Matthew tadi. Yang jelas, aku sudah merasa aman sekarang. Aku pun keluar dari gudang. Tapi anehnya bayangan tubuh pria itu masih berada disitu. Dan tiba-tiba terdengar suara bor listrik yang dinyalakan.  Lalu aku mendengar suara seseorang yang berkata,

“Telinga kiri atau telinga kanan?”


to be continue...

Sabtu, 28 Maret 2015

Crazy Little Killer


CRAZY LITTLE KILLER
Part 1
Aku benci mereka! Mereka selalu menghinaku! Mereka bersikap buruk padaku, dan juga, mereka mencampakkanku. Mengatakan sesuatu tentangku yang tidak benar. Mereka selalu mempermalukan aku di depan banyak orang. Padahal mereka itu adalah teman sekelasku sendiri. Mereka itu adalah Donna, Amanda, Brenda, Tanya, Renai, Dianna, dan Rose. Aku benci mereka semua!
Seperti waktu itu. Waktu itu adalah hari sabtu. Dimana semua siswa di sekolahku melakukan kegiatan jalan santai. Mereka semua berpasang-pasangan. Tapi mereka tidak mengajakku. Saat aku menghampiri mereka dan meminta untuk bergabung, mereka hanya bilang,
“Kami sudah pas. Kau cari saja teman yang lainnya.”
“Ya, cari saja sendiri. Seperti tidak ada yang lainnya saja. Kenapa kau harus bergabung bersama kami?”
Bodoh! Aku benci kata-kata itu. aku sudah mencari teman yang lain, tapi nanti pasti mereka menyinggungku dengan berkata,
“Pasti kau sudah punya teman baru kan? Dasar tidak setia kawan. Pergi saja kau sana!”
Tapi jika mereka sedang membutuhkan sesuatu dariku, mereka akan bersikap manis dan seakan semuanya baik-baik saja. Teman macam apa itu? Datang padaku hanya saat mereka membutuhkanku saja, tapi kalau mereka tidak membutuhkanku, mereka menghinaku, mencampakkanku lalu meninggalkanku begitu saja.
Sampai suatu saat aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka terhadapku. Aku ingin menangis saja rasanya. Aku pun keluar dari kelas dan menuju ke toilet. Ku kunci pintu toilet dengan rapat. Lalu aku menangis disana. Ya Tuhan, aku sudah tidak tahan lagi. Bagaimana caranya aku mengatasi ini? Apa aku harus meminta ibuku untuk memindahkanku ke sekolah lain? Oh Tuhan, aku tidak bisa berpikir lagi. Apa aku… aku bunuh diri saja. Pastinya setelah itu mereka takkan mengusik hidupku lagi. Tidak! aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak ingin bunuh diri. Yang harusnya kubunuh adalah mereka. Ya, mereka. Aku harus melenyapkan mereka dari dunia ini. Mereka harus lenyap!
Aku pun menghentikan tangisanku. Mengelap air mataku lalu membasuh wajahku dan menatap bayangan diriku di cermin. Ya, benar. pokoknya aku harus lenyapkan mereka. Aku harus bunuh mereka. Tak ada ampun bagi mereka!
Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera keluar dari toilet. Mengambil tasku di dalam kelas dan langsung berjalan ke luar gerbang sekolah. Saat di perjalanan pulang sekolah, aku melewati toko mainan plastik. Disana aku melihat sebuah topeng berwarna putih yang indah. Topeng yang pernah kulihat sebelumnya di film Scream. Topeng itu pun membuatku tertarik. Aku pun masuk ke dalam toko itu. Aku membeli topeng itu seharga 30 dollar. Setelah itu aku pun kembali berjalan menuju rumah. Ah, aku sudah tidak sabar untuk mengguanakan topeng itu!
Sesampainya di rumah ibuku menyuruhku untuk makan siang. Aku pun makan siang bersama dengan kakakku, Jimmy. Setelah makan siang aku kembali masuk ke kamarku. Aku mengamati bentuk topeng yang tadi ku beli. Bentuknya unik sekali. Sedikit menyeramkan tapi aku sangat menyukai desainnya. Aku pun mencoba memakainya. Wah, aku terlihat sangat keren dengan topeng ini! Aku sangat menyukainya.
Malam harinya aku pun menyiapkan semua yang aku butuhkan untuk mmbunuh mereka satu persatu. Malam ini aku berencana untuk membunuh Rose terlebih dahulu. Aku mengambil ransel besarku dan aku pun menaruh pisau lipat, pisau daging, gunting, tali temali, alat kejut listrik, dan masih banyak lagi. Sebenarnya aku juga ingin membawa gergaji listrik milik ayahku, tapi itu tidak akan muat di dalam tas milikku jadi aku memilih untuk tidak membawanya dan membawa bor listrik sebagai gantinya.
Aku pun meminta izin keluar rumah pada orang tuaku. Aku bilang aku ingin mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temanku. Orang tuaku pun mengizinkanku pergi. Sebenarnya Jimmy menawarkan diri untuk mengantarkanku pergi, tapi aku menolaknya. Aku memilih untuk pergi sendiri menggunakan mobil ayahku.
“Jangan pulang terlalu larut malam, Valencia. Dan kau harus berhati-hati.” Pesan ayahku.
“Baik ayah.”
Aku pun masuk kedalam mobil. Mengendarainya hingga ke sudut jalan yang sepi. Aku pun berganti kostum di dalam mobil. Aku memakai jaket berwarna biru tua. Tidak lupa untuk memakai sarung tangan juga agar sidik jariku tidak tertinggal di sana. Lalu aku pun memakai topengku dan memakai penutup kepala agar rupaku tidak di kenali. Setelah semuanya selesai, aku pun mengendarai mobil ayahku menuju ke rumah Rose. Tidak sulit bagiku untuk menemukan rumahnya karena aku sudah pernah kesana sebelumnya. Sesampainya di rumah Rose aku langsung keluar dari mobil dan menyelinap ke pekarangan rumahnya. Aku membawa ransel besarku dan menaruhnya di depan agar mudah bagiku untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Aku pun mengendap-endap ke belakang rumahnya. Akhirnya aku pun sampai di jendela kamarnya. Kebetulan juga saat itu jendelanya belum di tutup jadi aku tidak perlu untuk memecahkannya lagi. Dengan mudahnya aku bisa masuk ke dalam kamarnya. Aku bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Menunggu kedatangannya.
Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamar. Aku segera bersiap. Aku melihat Rose masuk kedalam kamarnya lalu dia naik ke atas tempat tidurnya. Rupanya ia tidak melihatku. Aku harus menunggunya sampai ia benar-benar tertidur.
15 menit kemudian aku mendengar suara dengkuran dari tempat tidurnya. Rupanya ia sudah tertidur. Bagus, sekarang aku hanya butuh untuk keluar dari kolong tempat tidurnya yang berdebu ini. Aku pun merayap pelan-pelan dan akhirnya aku berhasil keluar dari kolong tempat tidurnya. Kulihat Rose yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Lalu ku ambil pisau lipat dari dalam tas ransel yang ku bawa. Lalu ku bekap mulutnya dengan saputangan dan ke torehkan pisau lipat ke lehernya. Aku sangat menyukai saat aku melihat dia terbangun dan menyaksikan cairah berwarna merah kental itu keluar dari lehernya.
“Mmmmhh… mmhh…” erangnya. Tapi aku masih tetap membekap mulutnya. Kutusukkan pisau lipat itu lebih dalam lagi ke lehernya. Dan akhirnya ia pun tak bergerak lagi. Meninggal. Hahaha… aku senang sekali! Tapi aku masih belum puas dengan apa yang telah kulakukan. Aku pun membuka lebar kelopak matanya lalu kucungkil matanya. Setelah kedua bola matanya ku congkel dari kelopak matanya, aku pun meletakkannya di samping ia tidur. Lalu aku keluar dari kamarnya dengan segera agar tidak ketahuan. Aku pun melepas kembali kostumku serta mengelap darah yang berlumuran di pisau lipat. Untung saja darahnya tidak mengenai jaketku atau topengku. Jadi aku tidak perlu susah-susah untuk membersihkannya. Setelah berganti kostum aku pun kembali pulang ke rumah.
Esok paginya di sekolah, aku mendengar kabar bahwa Rose telah meninggal karena di bunuh oleh seseorang tak di kenal. Teman-temanku menangis semua kecuali aku. Aku hanya duduk di pojok kelas sambil menahan tawa. Mereka tidak mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya. Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan itu. Yang harus ku pikirkan adalah bagaimana cara membunuh Tanya malam ini. Karena malam ini adalah giliran dia untuk kubunuh.
Hari ini aku pulang sekolah dengan perasaan yang sangat ceria. Lagi pula mereka tak banyak mengangguku hari ini. Sesampanya di rumah aku bertemu Jimmy. Ia sedang duduk di ruang TV.
“Jimmy, ibu kemana?” tanyaku.
“Ibu sedang pergi kerumah nenek.” Jawabnya.
“Benarkah? Aku kira dia dirumah.”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa kok.”
“Oh iya, aku baru saja membeli kaset film baru. Judulnya You’re the next. Kau mau tidak menontonnya bersamaku?” tawarnya sambil memperlihatkan kaset filmnya ke arahku. Wah, sepertinya itu film pembunuhan!
“Ayo! Aku mau. Sebentar ya, aku ganti baju dulu.” Aku masuk kedalam kamar. Berganti baju lalu menghampiri Jimmy yang telah menungguku. Lalu kami pun menonton film bersama. Ternyata benar. itu memang film pembunuhan. Aku senang sekali. Aku jadi mendapat ide untuk membunuh malam ini. Hahaha….
Malam harinya aku bersiap-siap untuk beraksi lagi. Kali ini aku akan membunuhnya dengan menggunakan pisau blender. Tapi untuk berjaga-jaga, aku mengambil pistol milik ayahku secara diam-diam di kamar tidurnya. Aku pun meminta izin dengan kedua orang tuaku untuk pergi. Lalu aku pun kembali mengendarai mobil ayahku untuk ke rumah Tanya. Seperti kemarin, aku pun sudah berganti kostum.
Aku masuk ke pekarangan rumahnya. Hmm… sepi sekali. Tiba-tiba aku melihat Tanya keluar dari rumahnya. Hup! Aku segera bersembunyi di semak-semak yang rimbun di depan rumahnya. Aku melihatnya sedang pergi ke warung yang ada tepatdi depan rumahnya. Dia meninggalkan rumahnya tanpa menutup pintu. Tentu saja hal itu memudahkanku untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah masuk kedalam, aku bersembunyi di ruang tv rumahnya. Dengan televisi yang masih menyala, itu dapat membuat langkah kakiku tak terdengar. Kebetulan sekali rupanya Tanya sedang sendirian di rumahnya. Tiba-tiba Tanya datang dan langsung duduk di sofa di ruang tv sambil membuka bungkus makanan ringan yang ia beli tadi. Aku segera meraih benda apapun yang dapat ku raih disitu. Aku mendapatkan tongkat baseball.
Sekarang aku berdiri tepat dibelakangnya. Rupanya ia tidak menyadari kedataganku disini.
“Ehmm…” gumamku. Dia menoleh dan berteriak. Aku segera mengayunkan tongkat baseball yang ku pegang ke arahnya. Ia terjatuh. Kepalanya berdarah. Tapi ia bangkit dan berusaha melawanku.
“Siapa kau?!” teriaknya. Segera ku ambil pisau blender. Menyucuknya di stop kontak dan pisau itu pun berputar. Aku menarik tangannya dengan kasar. Lalu kuletakkan pisau blender itu tepat di kepalanya. Rambutnya yang panjang itu terlilit di pisau blender. Ia berteriak-teriak kesakitan. Tapi pisau itu tetap saja berputar dan menghancurkan kulit kepalanya. Tak lama kemudian ia pun meninggal. Terdapat banyak darah dimana-mana. Darahnya mengenai jaket, sarung tangan dan topeng yang ku pakai. Tak apalah, nanti akan ku cuci.
Aku mengambil gunting dari dalam tas yang ku bawa. Lalu menggunting rambut Tanya yang tersangkut di pisau blender. Aku membawa pulang pisau blender itu agar jejakku tidak ketahuan. Belum puas, ku ambil bor listrik dari dalam ranselku dan menyalakannya. Lalu kutusukkan bor itu di sisi kiri kepalanya dengan mantap. Darah segar pun bermuncratan kemana-mana.
Aku melirik jam tanganku. Sial! Ini sudah jam 11.30 malam! Aku kemalaman dan harus pulang sekarang. Saat baru saja keluar dari rumah Tanya, aku melihat bayangan siluet pria. Aku segera mengeluarkan pisau lipat dari kantung celanaku untuk berjaga-jaga. Kali saja orang itu ingin berniat jahat padaku. Loh, tapi bayangan itu seperti bayangan tubuh Jimmy. Aku membuka topengku dan menghampirinya. Mau apa dia kemari?
“Dari mana saja kau?” tanyanya. “Apa kau tidak tahu kalau ini sudah larut malam?”
“Aku tahu.” Jawabku.
“Astaga! Kenapa jaketmu berlumuran darah?  Dan sarung tangan itu… Kau baik-baik saja kan?” Jimmy tampak terkejut melihat jaket dan topengku yang berlumuran darah.
“Ssshhh….” Aku meletakkan telunjuk di depan bibirku sambil mendorongnya masuk ke dalam mobil ayahku.
“Valencia, sebenarnya ini ada apa?” tanyanya bingung.
“Tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Balasku sambil membersihkan darah yang ada di topengku dengan tisu.
“Itu… itu darah siapa?”
“Darah Tanya. Aku baru saja membunuhnya. Aku meletakkan pisau blender dan bor listrik di kepalanya.” Aku mengatakannya pada Jimmy. Mungkin aku sudah gila saat itu.
“Apa??? Astaga! Sejak kapan kau menjadi pembunuh? Valencia, sadarlah! Kau tidak boleh seperti itu! kau akan di penjara, Valencia! Dan kau akan…”
“Diam!! Kau tidak mengerti kenapa aku melakukan ini, kau tidak mengerti! Dan kau tidak akan mengerti!” bentakku.
“Baiklah, sekarang jelaskan padaku kenapa kau bisa melakukan ini. Dan aku ingin bertanya, apakah kau juga membunuh Rose?”
“Ya, aku juga membunuhnya. Aku menusukkan pisau lipat di lehernya.”
“Kenapa kau melakukan itu kepada teman-temanmu, kenapa Valencia?”
“Mereka bukan temanku. Mereka adalah bajingan. Dan mereka adalah calon korbanku selanjutnya.”
“Apa? jadi kau akan membunuh lagi?!!”
“Sssshhh! Kau bisa diam tidak?!”
“Maafkan aku, Valencia. Tapi, apa alasanmu melakukan ini pada mereka?”
“Mereka bersikap buruk padaku. Mereka selalu menghinaku dan membuatku sakit hati. Kau tidak akan pernah mengerti dengan perasaanku sekarang. Coba saja sekarang kau berada di posisiku, kau pasti juga akan merasakan hal yang sama. Aku mencoba bersabar menghadapi perlakuan mereka terhadapku, tapi mereka tidak pernah berubah. Sikap mereka padaku semakin buruk. Mereka mencampakkanku. Sampai pada akhirnya aku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk melakukan ini.” Tak terasa air mata mengalir dari sudut mataku. Jimmy mengusap air mataku.
“Aku mengerti, Valencia. Tapi kau harus berhenti melakukan ini. Ini bukan hal yang baik.” Kata Jimmy.
“Tidak! aku tidak akan pernah berhenti membunuh mereka sampai mereka semua lenyap! Aku tidak mau.”
“Valencia, bagaimana jika nanti ibu dan ayah mengetahuinya?”
“Jangan beritahu mereka. Aku akan merahasiakannya. Begitu pula kau. Kau juga harus merahasiakannya dari semua orang. Karena jika tidak, kau akan tahu akibatnya.”
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku ingin ikut denganmu. Aku akan membantumu.”
“Maksudmu?”
“Aku akan membantumu membalaskan dendammu pada teman-temanmu itu. boleh kan?”
“Boleh, tapi kau harus mengikuti syarat-syaratnya.”
“Apa saja itu?”
“Yang terpenting adalah kau harus memakai topeng. Itu beguna untuk melindungi wajahmu. Dan kau juga harus memakai sarung tangan agar sidik jarimu tidak tertinggal di tempat kejadian. Dan kau harus memakai pakaian yang super tertutup.”
“Aku jadi teringat dengan film yang kita tonton tadi. Baiklah, aku akan penuhi syarat-syaratnya.”
“Dan yang paling penting adalah jangan sampa ada orang lain yang tahu apa yang telah kita lakukan. Kita harus pandai menghilangkan jejak. Dan jangan sampai polisi menemukan kita.”
“Valencia, aku tidak menyangka ternyata kau mempunyai jiwa pembunuh yang besar.” ujar Jimmy. Aku mengacungkan pisau lipat yang kupegang ke arahnya.
“Jangan macam-macam denganku!”
“Maaf.”
“Baiklah, kurasa kita harus pulang.”
“Kau benar. Tadi aku kemari dengan menggunakan motorku. Jadi kita akan pulang sendiri-sendiri. Daahh..” Jimmy membuka pintu mobil dan berlari kecil menuju ke motornya. Lalu mengendarainya menuju pulang kerumah. Ia mengacungkan jari jempolnya padaku. Aku pun membalasnya.
Aku pun segera menghidupkan mesin mobil lalu segera pulang ke rumah. Aku sangat senang karena Jimmy menawarkan diri untuk membantuku. Tapi sebenarnya aku lebih suka membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Tapi tak apalah.
Sesampainya di rumah aku melihat kedua orang tuaku sudah menungguku di depan pintu rumah. Ku pikir mereka akan memarahiku, tapi ternyata tidak.
“Kau darimana saja? Kami mencemaskanmu! Untung saja Jimmy mau menjemputmu.” Kata ayahku.
“Maaf ayah. Tadi temanku minta ditemani sebentar karena dia sedang sendirian di rumahnya.”
“Valencia, kau baik-baik saja kan? Kau tahu tidak? tadi pagi ibu mendengar berita pembunuhan seorang gadis! Kau harus berhati-hati, nak. Dia satu sekolah denganmu. Apa kau mengenalnya?” kata ibuku.
“Ya, dia temanku. Semalam ada pembunuh yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya.”
“Benarkah? Kau tahu darimana?” tanya ayahku.
“Aku mendengarnya dari teman-temanku.”
“Baiklah, sekarang kau harus tidur. Besok kau harus sekolah.”
“Dimana Jimmy?” tanyaku.
“Dia ada di kamarnya.”
“Apa tadi dia ada berbcara sesuatu pada kalian?”
“Tidak ada. Tadi dia hanya datang, menyapa kami sebentar lalu pergi masuk kdalam kamarnya. Mungkin dia lelah dan sudah tidur.”
“Baiklah, selamat malam ayah, ibu.”
Aku masuk kedalam kamarku. Tapi aku tidak segera pergi tidur melainkan aku berusaha menyembunyikan jaketku dan sarung tanganku yang terkena darah tadi. Bahaya jika ibu atau ayahku menemukannya.
Setelah menyembunyikannya di tempat yang aman, aku pun berusaha untuk tidur. dalam bayanganku, aku berpikir siapa yang harus kubunuh besok. Dianna, Renai, Donna, atau Brenda?
Pagi harinya aku terbangun dan segera pergi mandi. Setelah mandi aku pun sarapan. Saat sarapan bersama keluargaku, mereka dikejutkan oleh berita pembunuhan seorang gadis dirumahnya. Mereka saja yang terkejut, bukan aku. Aku melihat wajah gadis itu di sensor. Aku tahu bahwa itu adalah Tanya yang kubunuh tadi malam. Polisi belum mengetahui dengan benda apa dia dibunuh. Tapi aku dan Jimmy tahu.
“Astaga, terjadi pembunuhan lagi! Valencia, Jimmy, kalian berdua harus berhati-hati jika keluar rumah. Sekarang pembunuh sedang berkeliaran.” Kata ibuku. Aku dan Jimmy saling berpandangan.
“Ya ibu. Aku tahu.” Jawab Jimmy sambil menggigiti roti cokelatnya.
“Valencia, bukankah dia temanmu? Iya kan?” tanya ayahku. Ia mengenal Tanya karena dulu Tanya sering bertamu ke rumahku.
“Ya, dia memang temanku. Namanya Tanya. Tapi sekarang kami sudah jarang bertukar kabar dan kami pun sudah tidak akrab seperti dulu lagi.”
“Kasihan sekali dia.” Ujar ayahku. Setelah selesai sarapan, aku pun berdiri dari tempat dudukku.
“Terima kasih sarapannya. Sekarang aku harus berangkat sekolah.”
“Valencia, tunggu! Ayah akan mengantarkanmu pergi ke sekolah.” Ayahku menghampiriku.
“Tidak usah ayah. Aku lebih suka pergi kesekolah dengan berjalan kaki.”
“Tapi diluar sana berbahaya, kau lihat kan? Pembunuh dimana-mana.”
“Ayah tenang saja. Aku akan berjaga diri.”
“Sayang, biarkan ayahmu mengantarkanmu pergi ke sekolah. Ya?” ibuku juga menghampiriku. Tiba-tiba Jimmy juga menghampiriku.
“Ibu, ayah, mungkin biar aku saja yang megantarkan Valencia pergi ke sekolah. Ya kan, Valencia?” kata Jimmy.
“Jimmy!” kataku. “Apa yang kau lakukan?”
“Ayo Valencia. Aku akan mengantarkanmu kesekolah.” Jimmy menarikku masuk kedalam mobilnya.
“Jimmy! Apa-apaan kau ini? Aku tidak ingin diantarkan pergi ke sekolah! Aku bukan anak kecil lagi!” elakku.
“Valencia, tenanglah. Aku melakukan ini agar ibu dan ayah tidak curiga. Aku akan mengatarmu dan aku juga akan menjemputmu. Oke?”
“Jimmy, aku tidak mau!” aku berusaha membuka pintu mobil. Tapi sia-sia. Jimmy sudah menguncinya.
“Tenanglah Valencia, kau tidak ingin mereka menjadi curiga kan?”
“Kau menyebalkan!” ujarku. Jimmy hanya tersenyum-senyum.
“Kau tidak perlu marah seperti itu. aku kan hanya ingin kau menunjukkan dimana letak toko yang menjual topeng menyeramkan itu.”
“Jadi hanya karena itu? astaga…”
“Ya, dimana letak tokonya?”
“Di jalan Hugfish di sebelah toko buah. Sudah jelas?”
“Wah, terima kasih ya.” Kata Jimmy. Aku merasa ada yang aneh. Sepertinya Jimmy tidak membawaku pergi ke sekolah melainkan membawaku ke suatu tempat.
“Kau akan membawaku ke sekolah kan?” tanyaku.
“Tidak. Kita akan bersenang-senang hari ini.” Jawabnya.
“Maksudmu, kau menyuruhku untuk membolos sekolah?”
“Tepat sekali.”
“Tapi aku harus pergi kesekolah untuk mengetahui keadaan mereka. Kau harus tau itu!”
“Sudahlah Valencia, nikmati saja perjalanan kita.”
Mungkin Jimmy bermaksud melarangku untuk berhenti membunuh. Ini tidak boleh dibiarkan! Aku segera mengeluarkan pistol yang ku ambil tadi malam dari dalam tasku dan menodongkannya ke arah Jimmy. Aku tidak segan-segan melukai orang yang menghalangi rencanaku meskipun dia adalah keluargaku sendiri termasuk Jimmy.
“Bawa aku ke sekolah sekarang, atau kuhancurkan otakmu!” kataku. Jimmy ketakutan.
“Baiklah, baiklah. Kita akan pergi ke sekolah sekarang. Tapi tolong letakkan pistol itu kembali ke dalam tasmu. Oke?”
Aku menaruh pistol itu kembali ke dalam tasku. Jimmy tidak terlalu banyak bicara sekarang. Tak lama kemudian aku sudah sampai di sekolah. Aku segera membuka pintu mobil lalu membantingnya dari luar. Lalu aku masuk ke pekarangan sekolahku tanpa mengatakan sepatah katapun pada Jimmy. Aku marah padanya. Karenanya aku menjadi terlambat pergi ke sekolah. Akibatnya aku tidak dapat mengikuti pelajaran pertama dan harus menerima hukuman. Aku di suruh berdiri di depan kelas sambil memandangi matahari. Uh, untuk apa aku melakukan hal konyol itu?
Saat jam istirahat tiba, aku bertemu dengan Dianna, Brenda, Donna, dan Amanda. Mereka mentertawakan aku. Aku hanya diam menanggapinya. Karena aku tahu, dalam hitungan hari, mereka semua akan kubunuh.
Hukumanku sudah selesai. Sekarang aku sudah di perbolehkan pergi kemana-mana. Aku pun masuk kedalam kelas. Di dalam kelas, aku mendapati Amanda, Renai, Donna, Dianna, dan Brenda sedang bersedih. Dengan santainya aku berjalan melewati mereka berlima. Aku duduk di tempat dudukku. Begitu saja sampai bel tanda masuk berbunyi.
Jam pulang telah tiba. Aku segera pulang ke rumah tanpa menunggu Jimmy lagi. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna cokelat yang mengklaksonku. Sial, itu mobil Jimmy! aku pun menghampirinya.
“Untuk apa kau menjemputku? Aku tidak memintanya kan?” kataku.
“Tapi kan tadi aku sudah bilang, aku akan menjemputmu. Ayo cepat naik!”
Aku masuk kedalam mobilnya dengan wajah kesal.
“Maafkan aku atas kejadian tadi pagi, Valencia. Padahal tadi pagi aku hanya ingin menajakmu pergi jalan-jalan agar kau tidak stress.”
“Apa? jadi kau pikir aku ini stress?!! Kau tahu tidak? berkat kau, aku jadi di hukum di koridor sekolah. Belum lagi mereka yang mentertawakanku. Itu memalukan!” omelku.
“Oke, oke. Aku minta maaf sekali atas kejadian tadi pagi. Ku harap kau tidak membunuhku hanya karena kesalahanku yang itu. kau mau memaafkanku kan?”
“Baiklah, aku memaafkanmu kali ini. Tapi kalau lain kali kau seperti ini lagi, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu walaupun kau adalah kakak kandungku sendiri.”
“Oh iya, aku sudah membeli topengnya. Mau lihat?”
“Mana?”
“Sebentar ya,” Jimmy memberhentikan mobilnya di sudut jala yang sepi lalu membuka tasnya. “Ini dia,” ia menunjukkan topeng vendetta berwarna kuning.
“Wow, keren. Aku suka topengmu.”
“Terima kasih. Oh iya, aku punya ide untuk pembunuhan selanjutnya.”
“Seperti apa?”
“Kita culik mereka, lalu aku akan membiarkanmu mengintrogasi mereka, atau apalah. Terserau kau mau di apakan. Bagaimana?”
“Ide bagus! baiklah. Nanti malam kita akan akan melakukannya. Persiapkan semua benda yang ingin kau pakai untuk membunuh mereka. Tunggu, setelah kita menculik mereka, kita akan menaruh mereka dimana? Tak mungkin jika kita menaruh mereka di rumah kita kan?”
“Tenang saja. Tadi ibu dan ayah bilang bahwa malam ini mereka akan pergi ke rumah nenek dan mungkin besok baru mereka pulang. Jadi kita puas melakukan apa saja malam ini.”
“Benarkah? Bagus kalau begitu. Kita menaruh mereka di garasi saja. Bagaimana?”
“Boleh saja.”
Malam harinya setelah kedua orang tuaku pergi, aku dan Jimmy mulai bersiap-siap. Kami berdua berpakaian layaknya pembunuh kelas kakap. Setelah itu kami berdua pergi ke rumah mereka. Pertamanya kami pergi ke rumah Donna dulu. Setelah sampai di rumah Donna, kami pun masuk pelan-pelan ke halaman rumahnya. Jimmy memencet bel rumahnya lalu bersembunyi di dekat tembok rumahnya. Itu dia! Donna membuka pintu. Mungkin karena ia penasaran jadi ia pergi ke luar. Menatap kesekelilingnya. Jimmy segera mendekap Donna dan membekap mulutnya menggunakan saputangan yang sudah di beri cairan khusus. Donna pun pingsan. Aku dan Jimmy bersusah payah membawanya ke dalam mobil tapi akhirnya kami berhasil memasukkannya.
Selanjutnya ke rumah Brenda, kami melakukan hal yang sama untuk memanggilnya keluar dari rumahnya. Lalu kerumah Amanda, kerumah Renai, dan selanjutnya ke rumah Dianna. Setelah semuanya terkumpul, aku dan Jimmy membawa mereka ke rumahku. Tepatnya di garasiku yang sudah kusiapkan dengan alat-alat khusus. Seperti tali, lakban, pisau, gergaji listrik, dan benda tajam lainnya. Aku dan Jimmy mengikat mereka dengan jarak yang jauh. 1 meter setiap satu orang. Agar mereka tidak mampu meloloskan diri. Terakhir, aku dan Jimmy melakban mulut mereka agar jika bangun nanti mereka tidak berisik.
Aku dan Jimmy duduk tepat di depan mereka. Mengamati wajah mereka satu per satu. Kami masih memakai topeng dan akan melepasnya jika mereka sudah tersadar nanti.
“Valencia, ini pertama kalinya aku akan membunuh orang. aku tidak yakin apakah aku akan melakukannya dengan baik.” Kata Jimmy.
“Sudahlah, kau pasti bisa melakukannya. Membunuh orang itu mudah, tapi menghilangkan jejak itu yang susah.”
“Kau benar. Setelah mereka mati nanti, kita akan apakan mereka?”
“Terserah kau saja. Tapi aku ingin mereka dimutilasi dulu. Setelah itu terserah saja ingin di apakan lagi.”
“Hah? Memutilasinya? Yang benar saja kau ini. ”
“Memangnya kenapa? Kau keberatan?”
“Ti… tidak kok.”
“Sekarang kita akan apakan mereka?” tanya Jimmy.
“Aku punya ide!” aku mengambil penyiram tanaman lalu mengisinya dengan air. Setelah itu aku menyiramkannya ke arah mereka. Mereka pun tersadar dan megap-megap. Lalu histeris saat melihat kami berdua di depan mereka. Hasrat ingin membunuh di dalam diriku mulai muncul.
“Kalian sudah bangun?” tanyaku. “Apakah kalian tidur nyenyak?”
“Mmm!! Mmm!!” gumam mereka. Aku tersenyum kecil lalu menghampiri Donna.
“Apa kau mengenalku?” dia menggeleng. “Kasihan, tidak bisa berbicara ya? Baiklah, aku akan melepaskan lakbannya. Tapi berjanjilah untuk tidak berteriak atau kau akan merasakan timah panas yang menembus kepalamu. Jimmy, siapkan pistolnya!”
“Sudah kusiapkan!” sahut Jimmy. Lalu aku menarik lakban yang menempel di bibir Donna dengan kasar dan itu menimbulkan bekas merah di daerah sekitar bibirnya.
“Lepaskan aku!” teriaknya.
“Eits, tadi kan aku sudah bilang kau tidak boleh berteriak!” kataku. Jimmy segera datang dan menodongkan pistol di kepala Donna.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan berteriak.” Ia ketakutan. “Si.. siapa kalian?”
“Kami? Apa kau tidak mengenali kami? Bodoh sekali. Paling tidak kalian mengenalku.”
“Siapa kau?”
“Apa kalian tahu seorang gadis malang yang selalu kalian hina dan kalian ejek? Bahkan tadi pagi kalian mentertawakannya karena dia di hukum. Kalian ingat?” mereka semua terdiam. “Apa kalian ingat itu semua?!!” bentakku.
“Ya, ya, aku ingat. Maafkan aku, Valencia. Maafkan aku.” Kata Donna. Aku membuka topengku. Jimmy juga melepas topengnya
“Terlambat bagimu untuk mengatakan maaf. Aku tidak akan menerima maafmu lagi. Kalian semua sudah banyak menyakiti hatiku. Kalian mencampakkanku, mempermalukanku di depan banyak orang. Apa itu kesalahan yang mudah untuk di maafkan?!!” PLAKK!! Aku menamparnya sampai bibirnya berdarah.
Lalu aku menghampiri Brenda, Renai, Dianna, dan Amanda. Aku melepaskan lakban yang menempel di bibir mereka.
“Valencia, kumohon, maafkan aku.” Kata Amanda.
“Ya, Valencia, maafkan kami.” Ujar Renai.
“Tidak ada maaf bagi kalian.” Balasku. “Jimmy, tolong ambilkan palu.” Jimmy mengambilkanku palu.
Kemudian aku mengayunkan palu itu ke kepala Amanda dengan sekuat tenaga. BUK!! Dan sekali lagi. Dan lagi. Kini ia sudah diam dan tak bernyawa. Aku tersenyum licik pada Brenda, Dianna, Renai, dan Donna.
“Apa kau juga ingin seperti itu?” tanyaku.
“Tidak! Valencia, kumohon jangan! Maafkan kami, tolong. Jangan lakukan itu pada kami!” aku menyerahkan palu yang ku pegang pada Jimmy.
“Sekarang giliranmu.” Kataku.
“Tidak Valencia, aku tidak membunuh mereka menggunakan ini, tapi aku ingin menggunakan ini.” Jimmy menunjukkan kapak padaku.
“Bagus!”
Jimmy menghantamkan kapak ke arah leher Brenda. Tepat di urat nadinya. Brenda sempat tersedak darahnya sendiri sampai akhirnya benar-benar tewas.
“Jadi, kalian bertiga ingin di bunuh dengancara yang bagaimana? Di tusuk dengan pisau lipat seperti Rose, atau menggunakan pisau blender dan bor listrik seperti Tanya, atau menggunakan palu seperti Amanda, atau menggunakan kapak seperti Brenda. Kalian ingin yang mana?” tawarku.
“Tidak yang mana-mana. Tolong lepaskan kami, Valencia.” Kata Donna.
“Ya, Valencia. Tolong…” DOR!! Tiba-tiba Jimmy menembak kepala Dianna dengan pistol. Ia tewas seketika.
“Wow, kau hebat, Jimmy. Tapi lain kali kau harus lebih hati-hati menggunakannya.” Kataku.
“Terima kasih, Valencia. Nanti akan kucoba untuk menembaknya dengan benar.” jawab Jimmy.
“Nah, Donna, Renai, sekarang kalian tinggal sendirian dan pastinya kau berdua tahu sekarang adalah giliran kalian.”
“Valencia, kumohon jangan! Jangan lakukan itu padaku!” kata Renai.
“Ya, Valencia. Biarkan kami hidup.”
Aku segera mengambil obeng dan menusukkannya ke perut Donna. Sedangkan Jimmy menghampiri Renai.
“Aaaahh…” jerit Donna. Lalu aku mengambil tang untuk menjepit urat nadi yang ada di lehernya sampai putus. Kemudian ku ambil pisau lipat untuk menusuk-nusuk perutnya berulang-ulang kali sampai akhirnya ia meninggal.
Aku melihat ke arah Jimmy. Ia mengambil parang lalu ia menebas kepala Renai sampai terlempar kira-kita 2 meter.
“Jimmy, kau keren sekali!” Kataku.
“Terima kasih, Valencia.” Balasnya. Aku mengambil gergaji listrik dan menyalakannya.
“Kau akan apakan benda itu? Tolong jangan bunuh aku, Valencia!” kata Jimmy.
“Bodoh! Siapa yang ingin membunuhmu? Aku kan ingin memotong-motong tubuh mereka. Apa kau tidak ingat bahwa kita akan memutilasinya?” Jawabku.
“Baiklah, aku akan membantumu melakukannya.”
Aku dan Jimmy sibuk meotong-motong tubuh mereka menjadi bagian yang kecil-kecil. Setelah itu kami memasukkannya kedalam kantong plastik sampah dan ingin membuangnya. Tapi saat keluar dari garasi, dua anjing kami menikuti kami. Sepertinya ia mencium bau amis dari dalam bungkusan yang kami bawa. Akhirnya aku dan Jimmy memutuskan untuk memberikannya kepada anjing kami saja. Kami biarkan mereka memakannya dengan rakus. Kecuali kepalanya. Aku dan Jimmy menghancurkan tengkoraknya sampai rata dan membuangnya ke hutan-hutan untuk membiarkan itu dimakan babi hutan. Kebetulan di belakang rumah kami ada hutan yang cukup luas. Lalu kami kembali ke garasi untuk membereskan semuanya. Kami mengepel lantai untuk menghilangkan darah yang berceceran dimana-mana.
Semuanya sudah selesai. Kami berdua pun pergi mandi. Setelah mandi kami menonton TV bersama di ruang TV dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Seolah semuanya baik-baik saja. Tapi kami berdua sangat kelelahan.
“Hari yang sangat melelahkan. Tapi aku sangat senang!” kataku.
“Ya, kau benar. Tapi, apa kau tidak menyesali perbuatanmu, Valencia?”
“Untuk apa menyesalinya? Toh, dulu mereka selalu menghinaku dan bersikap buruk padaku. Aku sudah terlalu membenci mereka."
“Setelah ini apa yang akan kau lakukan?”
“Terus membunuh.”
Jimmy merangkulku.
“Aku mengizinkan kau membunuh siapapun asalkan kau tidak membunuh kedua orang tua kita dan keluarga kita. Aku sangat menyayangi mereka. Aku pun juga sangat menyayangimu, Valencia.” Kata Jimmy.
“Ya. Tapi kalau mereka menyakiti perasaanku, mengapa tidak?”
“Ya jangan sampai.”
“Atau aku yang akan membunuhmu! Hahaha…” candaku sambil menodongkan pisau lipat ke arah Jimmy. Ia terkejut dan segera menjauh. Tiba-tiba hasrat untuk membunuh di dalam diriku muncul lagi. Kini lebih besar dari pada sebelumnya. Aku pun bangkit dari kursi dan mengejar Jimmy yang menjauh dariku.
“Jimmy, kau mau kemana? Kenapa kau berlari menjauh dariku? Bukankah tadi kau bilang kau sayang padaku? Hahaha…” ya, aku memang bernar-benar gila sekarang. Aku terus mengejar Jimmy dan ketika aku mendapatkannya, aku menusukkan pisau lipat yang ku bawa tepat di mana jantungnya berada. Jimmy tewas seketika. Aku pun tertawa sekeras-kerasnya. Aku benar-benar puas dengan apa yang kulakukan sekarang. Dan ketika orang tuaku datang nanti, aku ingin memberikan mereka kejutan. Aku yakin mereka pasti akan menyukainya.








CRAZY LITTLE KILLER
Part 2
Malam ini begitu cerah. Secerah hatiku saat ini. Aku duduk sendirian di balkon rumahku. Aku teringat kejadian tadi pagi pada saat aku menghabisi nyawa kedua orang tuaku.  Aku sedang menguliti mayat  Jimmy saat mereka datang. Lantas saja mereka sangat terkejut dan memarahiku. Ayahku hendak menelepon polisi. Tapi aku langsung menembak dadanya dengan pistol. Ia tewas seketika. Ibuku terlihat sangat ketakutan. Ia berusaha lari dariku. Namun ia kalah cepat dariku aku segera mengambil gergaji listrik lalu aku memenggal kepalanya dengan satu tebasan. Aku masih menyimpan mayat ibu dan ayahku di dalam gudang. Sedangkan mayat tubuh Jimmy yang sudah ku potong-potong, kumasukkan di dalam kardus dan kuletakkan di atas meja makan.  Aku merasa malas untuk pergi keluar dan membuangnya di tempat sampah. Hanya saja, kedua anjingku terus mencoba membuka pintu gudang. Mungkin mereka mencium bau darah segar dari dalam sana.
Entah mengapa semenjak pertama kali aku membunuh, aku merasa ingin membunuh lagi, lagi, dan lagi. Padahal, pada awalnya aku hanya ingin membunuh tujuh teman palsuku itu. Tapi pada akhirnya aku menjadi ketagihan. Aku merasa sangat senang apabila melihat orang lain merasa kesakitan ataupun ketakutan. Apalagi jika melihat mereka semua mati di tanganku.
Saat aku sedang asik membayangkan kejadian tadi siang, tiba-tiba aku mendengar suara barang jatuh dari arah ruang makan. Aku pun berdiri dari kursi dan segera menuruni tangga. Sesampainya di bawah, kudapati anjingku sedang mengendus-endus kardus yang berisi mayat Jimmy. Huh, anjing sialan. Pasti mereka telah menjatuhkan kardus itu. Untung saja isinya tidak tertumpah keluar. Kalau isinya tertumpah kan, aku pasti repot membersihkannya. Tapi aku merasa kasihan dengan anjingku. Mungkin ia kelaparan. Aku pun membuka kardus itu dan mengeluarkan sepotong kaki Jimmy lalu kulemparkan ke kedua anjingku. Mereka berdua pun langsung melahapnya.
Melihat anjingku yang sedang lapar itu makan dengan rakusnya, aku pun juga ikut lapar. Aku membuka kulkas dan melihat isinya hanya bir, air mineral, telur, sosis, kornet, keju, sayur-sayuran, buah-buahan, makanan ringan dan daging sapi. Ah, bosan. Aku kembali menutup kulkasku. Aku mencari sesuatu yang enak untuk di makan. Tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk memasak daging Jimmy menjadi sebuah sup. Mungkin rasanya akan lebih enak. Aku pun mengambil potongan tubuh Jimmy dan mencucinya hingga bersih. Setelah itu aku membuat bumbu-bumbunya. Tak lama kemudian jadilah sup dari potongan tubuh Jimmy. Aku pun mencicipinya. Mm… rasanya enak sekali. Lebih enak dari daging apapun. Aku tidak pernah menyangka rasa daging manusia seenak ini. Aku pun menyantapnya hingga habis tak tersisa.
Setelah makan malam yang enak itu, aku pun berjalan menuju ke ruang tv dan menonton tv. Mencari-cari acara tv yang bagus untuk ku tonton. Saat aku sedang asik menonton tv, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Aku sempat menyembunyikan kardus berisi potongan tubuh Jimmy di dalam gudang sebelum membukakan pintu untuk seseorang di luar sana. Setelah kupikir sudah aman, aku pun membukakan pintu untuk orang itu.
“Hai Valencia. Selamat malam.” Ternyata yang datang adalah Synyster dan Zacky, teman sekelasku.
“Selamat malam. Silakan masuk.” Kataku.
Mereka berdua pun masuk dan duduk di ruang tv.
“Maaf ya, kami datang tiba-tiba. Oh iya, tadi kenapa kau tidak masuk sekolah?” tanya Zacky.
“Tadi aku tidak masuk sekolah karena aku kesiangan.” Jawabku berbohong.
“Benarkah? Kenapa kau tidak menyuruhku untuk membangunkanmu saja?” kata Synyster.
“Sebenarnya, untuk apa kalian datang kemari?”
“Ini, kami ingin mengajakmu untuk mengerjakan pr bersama-sama. Boleh kan?”
“Tentu boleh. Pr apa?”
“Pr matematika. Bantu kami ya, Valencia, kau kan pintar matematika.”
“Baiklah. Sebentar ya, aku ambilkan minuman dulu.” Aku beranjak dari sofa dan menuju dapur lalu mengambilkan beberapa bir dan makanan ringan untuk kedua temanku itu. Aku mengambil pisau dapur untuk berjaga-jaga jika salah satu dari mereka sudah mengetahui apa yang telah kulakukan tadi.
Setelah dari dapur, aku menuju ke kamarku untuk mengambil buku pelajaranku. Sesudah itu aku pun kembali ke ruang tv.
“Ini, minumlah.” Ujarku sambil menaruh bir dan makanan ringan di meja.
“Kau bercanda? Ini kan makanan ringan, apa kau menyuruh kami untuk meminumnya juga?” canda Synyster. Dia memang suka bercanda.
“Baiklah. Kalau begitu, minum dan makan.” Aku mengalah.
“Nah, begitu kan baru sesuai.”
Kami pun mengerjakan pr itu bersama-sama. Setelah mengerjakan pr kami pun bersantai bersama dan mengobrol.
“Kau tahu Val? Saat di sekolah tadi, orang tua  Amanda, Renai, Donna, Dianna, dan Brenda melaporkan bahwa anak mereka hilang.” Kata Zacky.
“Benarkah? Hilang dimana?”
“Aku juga tidak tahu. Orang tuanya curiga dengan pembunuh yang membunuh Tanya dan Rose yang menculik mereka.”
“Astaga, kasihan sekali mereka.”
“Oh iya, bagaimana kalau kita bantu mencarinya?”
“Apa? mencarinya? Tidak ah, aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk mencari mereka.”
“Kenapa? Dia kan temanmu juga.”
“Mereka bukan temanku. Toh, dulu mereka sering menghinaku dan mengejekku kan. Bahkan, mereka pernah mempermalukanku di depan kalian berdua kan?”
“Iya sih, mereka memang terlihat jahat padamu. Tapi, apa salahnya? Mereka kan teman kita.” Kata Synyster.
“Tidak. aku tidak pernah mengakui mereka sebagai temanku.”
“Oh, baiklah. Terserah kau saja.” Synyster meneguk birnya.
Aku mengambil pisau dapur yang ku sembunyikan di balik buku pelajaranku dan menunjukkannya kepada mereka berdua. Synyster pun tersedak karena terkejut.
“Val… Valencia, apa yang kau lakukan?” Synyster mulai bergerak menjauh dariku. Begitu pula dengan Zacky. Ia terlihat ketakutan.
“Kalian ini kenapa? Aku kan hanya ingin memotong apel ini.” Kataku santai.
“Huufftt… syukurlah. Aku pikir kau ingin membunuh kami.” Ujar Zacky.
Aku memotong sebuah apel dan membaginya kepada mereka.
“Terima kasih, Valenicia.” Kata Zacky.
“Ibu dan ayahmu kemana? Aku juga tidak melihat Jimmy sedari tadi.” Tanya Synyster sambil menggigiti apelnya.
“Oo.. itu. Mereka bertiga sedang pergi berlibur.”
“Benarkah? Tapi kenapa kau tidak ikut?”
“Tidak. Aku lebih suka diam di rumah daripada jalan-jalan.”
“Oo… begitu ya.”
“Ya,”
Waktu terus berlalu. Kini sudah tiba tengah malam.
“Wah, sudah tengah malam. Zacky, ayo pulang!” kata Synyster.
“Tidak usah pulang. Kalian menginap disini saja. Besok kan juga hari Minggu.” Ujarku.
“Ya, Valencia benar. Lagi pula aku sedang malas pulang ke rumah.” Zacky melepas jaket yang sedari tadi ia pakai dan menunjukkan tubuhnya yang kekar itu.
“Baiklah kalau begitu.” Synyster lanjut membuka kaleng bir keempatnya.
Aku sengaja membiarkan mereka semua menginap dirumahku. Siapa tahu nanti aku bisa membunuh mereka dan merasakan daging mereka terlihat lezat itu. Aku menelan ludah. Ah, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi daging mereka.
Sebelum tidur, aku telah mengunci rapat-rapat semua pintu dan jendela yang ada di rumahku. Tak lupa untuk menyimpan kuncinya di tempat yang aman agar mereka tidak menemukannya.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan. Untung saja aku masih mempunyai sisa daging Jimmy yang kutaruh di kulkas. Karena hari ini aku akan memasak sup yang enak seperti tadi malam lagi.
Hmm… baunya lezat sekali. Tak lama kemudian Synyster dan Zacky datang menghampiriku.
“Valencia, kau sedang memasak apa? Sepertinya sangat lezat. Sampai-sampai aku terbangun di buatnya.” Tanya Zacky.
“Aku sedang memasak sup.”
“Sup apa?” tanya Synyster yang masih terkantuk-kantuk.
“Sudahlah, tidak usah banyak tanya. Nanti kau pasti juga akan merasakan kelezatannya.”
“Baiklah.” Synyster dan Zacky duduk di kursi makan. Tapi kaki Synyster sempat terhantup kaki meja saat itu.
“Aduh!” pekiknya. Zacky tertawa.
“Syn, Syn, kau ini mabuk ya? Haha..”
“Biarkan saja, Zacky. dia mungkin masih setengah nyawa.” Balasku. Synyster hanya tersenyum-senyum.
Sup spesial buatanku sudah terhidang di meja makan. Aku pun sarapan bersama dengan kedua temanku itu.
“Mm… enak sekali.” Kata Synyster.
“Ya, benar. ini sangat-sangat enak. Valencia memang pintar memasak ya,” sambung Zacky.
“Aku boleh menambah kan?” ujar Synyster.
“Aku juga ya?”
“Ya, ya. Kalian boleh menambah. Tapi jangan lupa untuk membayarnya. Hahaha…” candaku.
“Aku bersedia membayar berapapun untuk makanan enak seperti ini.” Kata Zacky.
Aku menatap mereka yang sedang sarapan. Dalam hati aku tertawa. Mereka tidak tahu apa yang telah mereka makan. Tak lama kemudian mereka sudah selesai makan dan meninggalkan sisa-sisa tulang di mangkuk mereka.
“Ah, akhirnya aku kenyang juga. Terima kasih, Valencia.” Kata Synyster sambil mengelus perutnya. Sedangkan Zacky masih menggerogoti sisa-sisa daging di tulang-tulang jari-jemari Jimmy.
“Oh iya, kau masih belum memberi tahu kami, Valencia. Ini sup daging apa? daging ayam ya?” tebak Synyster.
“Bukan.”
“Jadi?”
“Aku tidak akan memberitahu kalian. Aku ingin kalian yang mencari tahu sendiri.”
“Bagaimana caranya?” tanya Zacky.
“Entahlah. Atau kalian bisa menyusun kerangka tulang-tulang yang ada di mangkuk kalian.”
“Kau benar!” Synyster dan Zacky pun menyusun kerangka tulang-tulang itu. dan akhirnya itu semua terbentuk seperti kerangka tulang jari-jemari manusia.
“Yeay! Sudah selesai!” ujar Synyster. Sementara itu Zacky terbelalak melihat susunan tulang yang baru saja ia buat dengan Synyster.
“Nah, jadi itu berbentuk apa?” tanyaku.
“Apa ya?”
Zacky menepuk bahu Synyster. Dan berkata,
“Aku sudah tahu apa yang baru saja kita makan. Itu adalah…”
“Bagus! berarti kau sudah mengerti sekarang kan?” aku memotong ucapan Zacky.
“Tunggu, yang kita makan tadi itu apa sih?” tanya Synyster.
“Itu adalah daging manusia. Tepatnya tadi itu adalah sup tangan Jimmy.” jelasku.
“APA??!!” mereka berdua terkejut. Synyster dan Zacky berlari ke arah kamar mandi dan muntah di sana. Aku tersenyum licik. Kemudian aku mengambil pisau dapur dan berjalan menghampiri mereka.
“Bagaimana? Supnya enak kan?” kataku.
“Val… Valencia, aku tidak pernah mengira bahwa kau adalah kanibal! Kau memakan potongan tubuh kakakmu sendiri!” kata Zacky.
“Lalu apa masalahmu? Kau kan tadi juga memakannya.”
“Ss.. Syn, cepat telepon 911!” ujar Zacky. Synyster mengambil handphone dari sakunya dan menelepon 911.
“Halo, panggilan darurat? Tolong kami…” aku segera mengambil handphone Synyster dari tangannya dan membantingnya di lantai hingga layarnya pecah.
“Valnecia, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu bahwa harga handphone ku itu mahal sekali!” kata Synyster.
“Lebih mahal mana dengan nyawamu, bodoh!? Ayo, kita lari!” kata Zacky sambil menarik tangan Synyster untuk lari. Mereka naik ke loteng rumahku. Aku pun menyusul mereka.
Saat di loteng, aku berusaha mencari mereka. Susah sekali mencari-cari mereka. Akhirnya aku pun kembali turun ke bawah untuk memancing mereka untuk keluar dari tempat persembunyian. Namun saat aku baru menuruni tiga anak tangga, ada seseorang yang mendorongku dan akhirnya aku pun jatuh terguling kebawah. Sial, itu adalah Zacky. Aku meraba bibirku yang terasa agak nyeri. Berdarah. Aku pun geram. Lalu aku mengambil kapak di garasi dan kembali naik ke atas loteng.
“Synyster, Zacky, dimana kalian? Percuma saja kalian bersembunyi. Ini kan rumahku, aku pasti tahu dimana kalian bersembunyi.” Kataku sambil menyeret kapak yang kubawa ke lantai.
Aku berjalan ke arah satu-satunya kamar kosong di sana  yang merupakan bekas kamarku dulu. Entah mengapa aku mempunyai firasat yang kuat bahwa mereka sedang berada di dalam sini. Aku pun membuka pintunya. Dan benar saja, mereka berdua sedang bersembunyi di dalam sana. Kemudian aku menyalakan lampunya.
“Kena kalian! Sekarang kalian mau pergi kemana, hah?”
“Ampun, Valencia. Jangan bunuh kami, ku mohon.” Kata Zacky.
“Ya, Valencia. Dan jangan makan kami. Daging kami rasanya tidak enak. Rasanya keras.” Sahut Synyster.
Aku menghampiri mereka berdua.
“Tak ada ampun bagi kalian berdua. Kalian berdua harus mati!”
Synyster dan Zacky bergerak menjauh dariku. Namun terlambat,  aku sudah berhasil mengkapak perut Zacky dan menyebabkan ususnya terburai keluar. Zacky pun terbaring tak berdaya menahan sakitnya.
“Astaga! Zacky! Sahabat terbaikku. Aku tidak kan pernah memaafkanmu, dasar jalang!” Synyster menghampiriku.
“Mau apa kau?” aku mengayunkan kapak ke arah leher Synyster. Namun tidak kena karena ia berjalan mundur dan terjatuh.
“A… ampun, Valencia. Maafkan kata-kataku tadi. Tolong jangan bunuh aku.” Ujar Synyster.
“Syn… Synyster… kau harus lari, kawan.” Rupanya Zacky masih hidup. Aku pun menghampiri Zacky yang sedang sekarat itu.
“Lari Syn, lari..” ujarnya lagi.
“Aku tidak bisa lari lagi! Aku lumpuh karena ketakutan!” Jawab Synyster.
“Kalau begitu... kalau begitu kau merangkak saja. Dengan begitu kau bisa pergi dari…”
“Dasar brengsek! Kau bisa diam, tidak?!!!” BUK! Aku menghantamkan kapak ke leher Zacky sehingga kepalanya terpisah dari badannya.
“Nah, sekarang dia sudah tewas. Sekarang giliranmu.” Gumamku sambil menghampiri Synyster yang berdiam di pojok kamar. Aku senang sekali menatap wajahnya yang ketakutan itu.
“Sekarang bagaimana?” tanyaku pada Synyster.
“Aku… aku pasrah saja. KAU BUNUH SAJA AKU!! Tidak ada pilihan lain lagi. Penggal kepalaku, penggal! Biarkan saja aku merasakan sakitnya.” Aku tersenyum mendengar perkataan Synyster seperti itu. Sepertinya ia begitu siap untuk merasakan rasa sakit.
Aku meletakkan kapakku lalu aku naik ke atas tubuhnya.
“Kau benar-benar ingin mati ya?”
Synyster mengangguk. Kulihat ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.
“Cup, cup, cup. Jangan menangis, sayang. Ini tidak seperti yang kau kira.” Aku tersenyum lalu aku mengenggam lehernya dengan kedua tanganku. Lama-kelamaan genggaman tanganku itu menjadi cengkraman yang kuat. Sangat kuat sehingga membuat Synyster menjadi sesak nafas dan terbatuk-batuk.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
“Bertahanlah, Syn. Tadi kau bilang kau siap untuk mati kan?” aku memperkuat cengkramanku. Akhirnya Synyster pun tak bernafas lagi. Tewas.
Aku menyeret keluar mayat mereka keluar dari kamar kosong itu dan membawanya ke gudang di bawah. Menumpuknya bersama dengan mayat ayah dan ibuku. Setelah itu aku mengunci pintunya dengan rapat lalu aku pergi ke luar rumah dan bersantai di teras.
Kulihat di teras rumah tetanggaku ada Matthew yang sedang bersantai juga. Ia tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumnya. Matthew merupakan salah satu tetangga yang dekat dengan keluargaku termasuk aku. Dulu ia sering datang kerumahku untuk sekedar bermain video game bersama Jimmy ataupun bermain bola basket bersamaku. Tapi sekarang tidak lagi karena mungkin ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa ku sadari, ternyata sedari tadi Matthew memanggilku untuk datang ke rumahnya. Aku pun mengangguk dan segera mengunci pintu rumahku lalu berjalan kaki menuju ke rumahnya.
“Hai Valencia.”
“Hai.”
“Kenapa kau sendirian saja? Kemana ayah dan ibumu? Dan dimana Jimmy?”
“Mereka semua sedang pergi berlibur.”
“Berlibur? Kenapa kau tidak ikut?”
“Tidak apa-apa. Aku sedang malas untuk pergi jalan-jalan.”
“Oo… begitu.”
“Ya.”
Kami mengobrol cukup lama di teras rumahnya. Tak lama kemudian Matthew pun mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumah di perumahan ini terlalu bersar untuk Matthew yang tinggal sendirian. Sama sepertiku.
Matthew berjalan ke arah dapurnya lalu ia kembali sambil membawakanku sepiring kue cokelat dan segelas susu cokelat hangat.
“Cicipilah. Ini baru pertama kalinya aku membuat kue.” Ujar Matthew.
“Wow, ini terlihat sangat enak! Aku coba satu ya,” aku mengambil satu potong kue itu dan mencobanya.
“Bagaimana rasanya?”
“Enak sekali. Mungkin kelak kau akan menjadi koki yang handal.” Ujarku. Walaupun menurutku ini masih kalah enak dengan sup daging manusia yang kubuat tadi.
“Wah, terima kasih ya, kau adalah orang pertama yang mencoba kueku. Lain kali aku akan mengirimkannya ke tetangga baru di sebelah rumahmu.” Kata Matthew.
“Benarkah? Apa ada tetangga baru di sebelah rumahku?”
“Ada. Dia baru pindah kesini kemarin pagi.” Kemarin pagi? Berarti mereka datang disaat aku sedang membunuh ayah dan ibuku.
“Hei, kenapa melamun? Ayo, habiskan kuenya. Ini masih ada banyak di dapur dan aku tidak tahu bagaimana untuk menghabiskannya.” Ujar Matthew mengejutkanku.
“Maaf Matthew. Aku pikir aku harus pulang sekarang.” Aku buru-buru beranjak dari sofa dan bersiap untuk kembali ke rumah.
“Tunggu!” Matthew menarik tanganku. “Apa boleh jika nanti malam aku bertamu ke rumahmu? Aku bosan jika terus-terusan sendirian dirumah.”
“Tentu. Sampai jumpan nanti malam.” Aku melepaskan genggaman tangannya dan segera pergi keluar dari rumahnya.
“Jam 7 tepat aku akan mengetuk pintu rumahmu!” kata Matthew. Aku mengacungkan jempolku ke arahnya.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kedalam dan menguncinya. Siapa tetangga baru itu? Aku khawatir jika ia mendengar sesuatu dari rumahku kemarin pagi. Seperti teriakan seseorang, ledakan pistol, atau semacamnya. Bagaimana jika nanti ia menelepon polisi? Aaahhh… aku sangat bingung!
Baiklah, baiklah. Mungkin aku harus berpikir positif. Aku harus meyakini diriku sendiri bahwa kemarin ia tidak mendengar apapun dari rumahku. Huufftt… pikiranku agak tenang sekarang. Tapi, kenapa tiba-tiba aku menjadi lapar? Aku merasa ingin makan daging manusia lagi. Aku pun mengambil kapak dan berjalan ke arah gudang. Aku memotong tangan sebelah kanan Synyster dan hendak menjadikannya sup. Apa? Sup lagi? Tidak, tidak. Aku sudah bosan dengan sup itu. sekarang bagaimana? Apa aku harus menggorengnya, atau membakarnya bersama bumbu-bumbu yang lezat, atau… ah, itu semua terlalu ribet dan merepotkan. Lebih baik aku makan mentah saja. Siapa tahu rasanya akan lebih enak.
Aku menggigit punggung tangannya Synyster lalu mengunyahnya. Rasanya agak aneh. Teksturnya sangat kenyal. Tapi lama-kelamaan aku menjadi ketagihan dan tanpa sadar aku sudah menghabisi seluruh daging di tangannya. Ternyata ini lebih enak daripada sup yang aku buat tadi.
Setelah menyantap tangan mentah itu, aku pun menyimpan tulang-tulangnya di tempat dimana aku juga menyimpan tulang-tulang Jimmy. Siapa tahu nanti bisa berguna, pikirku. Kemudian aku berjalan menuju ke ruang tv dan menonton tv.
“Lima orang gadis remaja di laporkan hilang. Di duga korban di culik oleh pembunuh yang membunuh teman korban kemarin lusa. Polisi masih melacak keberadaan korban dan pembunuh yang telah menculiknya. Berikut, lintas peristiwa, melaporkan.” Klik. Kumatikan tv ku. Lalu aku membanting tubuhku ke sofa. Hm… siapa yang mau menonton berita pembunuhan siang-siang begini? Lebih baik aku pergi ke balkon saja.
Aku pun naik ke loteng dan menuju ke balkon. Aku duduk di sana dan menikmati pemandangan siang yang terik itu. Aku memandang ke arah rumah tetangga baru disebelah rumahku. Tiba-tiba aku melihat seorang pria yang kira-kira berumur 23 atau 24 tahunan keluar dari rumah itu. Ia sedang membuang sampah.  Aku terus memperhatikannya. Ternyata ia sadar bahwa aku memperhatikannya. Ia tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumnya. Lalu ia kembali masuk ke rumahnya.
Aku tetap bersantai di balkon itu. Sampai pada saat aku mendengar suara seseorang yang memanggilku.
“Hai nona cantik.” Ujarnya. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata pria tadi itu memanggilku melalui balkon rumahnya. Balkon rumah di perumahan ini cukup luas sehingga pemilik rumah yang satu dengan yang lain dapat saling berhadapan satu sama lain.
“Oh, hai.” Jawabku.
“Boleh aku tahu siapa namamu?”
“Namaku adalah Valencia Cornellita Wilson. Dan kau?”
“Namaku Jonathan Lewis Seward. Tapi kau boleh memanggilku Johnny. Aku baru pindah kemarin pagi.” Kata Jonathan Lewis Seward alias Johnny.
“Oh ya? Kemarin pagi? Apa kau mendengar suatu suara dari rumahku kemarin pagi?” tanyaku.
“Hah? Maksudmu?” ia terlihat bingung dengan pertannyaanku. Syukurlah. Berarti ia tidak tahu apa yang telah terjadi kemarin pagi.
“Oh, tidak apa. lupakan saja.”
Johnny tersenyum.
“Kau tinggal sendiri?” tanyanya.
“Tidak. aku tinggal bersama keluargaku dan satu kakak laki-lakiku. Tapi mereka semua sedang pergi berlibur. Kau sendiri?”
“Aku tinggal sendiri disini. Sebelumnya aku berniat untuk tinggal di apartemen, tapi aku rasa itu agak kurang pas, jadi aku tinggal di perumahan saja. Lagi pula perumahan ini sangat dekat dengan tempat kerjaku.”
“Kau bekerja dimana?”
“Aku bekerja di toko burger di sudut jalan saja. Lain kali datang ya ke toko itu. Nanti aku akan memberimu diskon. Hahaha…” kata Johnny.
“Kalau gratis baru aku mau. Hahahaha…” balasku.
“Hahaha… kau ini.” Bip bip. Tiba-tiba jam tangan yang di pakai Johnny berbunyi.
“Baiklah. Aku harus berangkat kerja sekarang. Daahh…”
“Daahh… sampai ketemu besok.”
Johnny melambaikan tangannya ke arahku. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Kemudian aku melihatnya keluar rumah sambil merapikan seragam kerjanya. Ia menoleh ke arahku lalu ia melambaikan tangannya lagi. Aku pun membalasnya. Setelah itu aku masuk ke dalam rumah dan turun ke bawah.
Huaahh… aku mengantuk sekali. Aku pun masuk ke dalam kamarku dan merebahkan diriku di kasur. Tak lama kemudian aku tertidur lelap.
Tok, tok, tok, tok. Samar-samar aku mendengar suara pintu rumahku di ketuk oleh seseorang. Aku pun bangkit dari tempat tidur. Aku melirik jam di dinding. Ah, ternyata sudah jam 7 malam. Itu pasti Matthew.
Aku keluar dari kamarku dan membukakan pintu untuk Matthew. Namun ternyata aku salah. Yang datang bukanlah Matthew.
“Selamat malam, Valencia.” Itu adalah Johnny.
“Oh, hai Johnny. Silakan masuk.”
Johnny masuk ke dalam rumahku. Kami pun mengobrol di ruang tv.
“Ini, aku ingin memberimu sesuatu.” Ia menyodorkan kantong kresek putih yang berisi 6 burger yang masih hangat di dalamnya.
“Astaga, seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Dan juga tadi aku hanya bercanda saja.” Kataku.
“Tidak apa-apa kok. Tadi bosku yang memberiku. Katanya sebagai bonus.” Jawab Johnny.
“Terima kasih, ya.” Ucapku.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu lagi. Aku pun membukakannya. Kali ini dari Matthew.
“Silakan masuk, Matt.” Matthew masuk ke dalam rumahku.
“Hai, kau yang tetangga baru di sebelah sini kan?” Matthew menunjuk Johnny.
“Ya, kau benar. Dan kau yang tinggal di sebelah sini kan?”
“Ya, benar. Padahal tadi aku baru saja ingin mengajak Valencia ke rumahmu untuk mengantarkan ini.” Matthew menunjukkan tempat makan plastik yang di bawanya.
“Apa itu?” tanya Johnny.
“Ini adalah kue cokelat yang tadi kubikin. Cobalah.”
Johnny mencicipi kue milik Matthew.
“Mm… lezat sekali. Aku suka.”
Kami pun mengobrol sambil memakani kue yang di bawakan Matthew dan burger yang di bawa Johnny. Sementara aku hanya menyediakan bir saja. Lagi pula stok bir ayahku masih banyak.
“Ayo, dimakan burgernya. Ini enak loh,” kata Johnny sambil mengelarkan burgernya.
“Baiklah. Kucoba satu ya,” Matthew mengambil salah satu burger dan membuka bungkusannya. Begitu pula denganku dan Johnny.
“Enak kan?” tany Johnny.
“Enak sekali.” Jawabku.
“Ya, benar. dagingnya terbuat dari daging apa?” tanya Matthew.
“Dari daging sapi.” Kata Johnny.
“Oh, aku pikir daging manusia. Hahahaha…” canda Matthew sambil tertawa menunjukkan lesung pipinya.
“Tidak. Daging manusia tidak seperti ini rasanya. Daging manusia jauh lebih enak.”
 celetukku. Matthew dan Johnny terkejut.
“Maksudmu?” tanya Matthew.
“Hahaha… kau pasti bercanda kan? Haha..” ujar Johnny. Aku menatap mereka dengan tatapan serius.
“Aku tidak bercanda.” Kataku. Matthew dan Johnny saling berpandangan lalu mereka tertawa. Ya sudah. Terserah mereka saja mau percaya atau tidak. Yang pasti nanti aku akan membuktikannya pada mereka bahwa rasa daging manusia itu lebih enak.
Kami mengobrol seperti biasa lagi. Tiba-tiba aku merasa mual. Aku pun menghentikan makanku.
“Kenapa Valencia?” tanya Matthew.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa mual. Mungkin aku kekenyangan.” Jawabku.
“Kekenyangan? Kau kan baru menghabiskan setengahnya.” Kata Johnny.
“Tidak-tidak. Aku tidak bisa memakannya lagi. Kalau dipaksa, bisa-bisa aku muntah.” Kataku. Kenapa ini? Tumben sekali aku merasa mual di saat sedang makan. Biasanya aku tidak seperti ini. Apa karena aku kebanyakan makan daging manusia?
“Ya sudah, kalau begitu minum saja yang banyak. Supaya tidak mual lagi.” Matthew memberikanku sekaleng bir. Aku langsung meminumnya. Setelah itu aku agak merasa lebih baik.
Waktu berlalu dan terus berlalu. Tak terasa sudah tengah malam. Johnny dan Matthew sudah tertidur pulas di sofaku. Mereka bilang, mereka sudah terlalu mengantuk dn malas pulang kerumah jadi mereka memutuskan untuk tidur di rumahku saja.
Mualku sudah berhenti. Tapi sekarang aku lapar. Aku pun mencoba menghabiskan sisa burgerku tadi. Tapi tiba-tiba aku merasa mual lagi. Aku pun heran. Apakah burger ini ada racunnya? Ah, tidak mungkin. Kalaupun ada, pasti Johnny dan Matthew juga kena.
Aku pun pergi ke dalam gudang untuk mengambil daging manusia. Tercium bau busuk yang sangat menyengat dari dalam gudang saat aku membuka pintunya. Itu pasti berasal dari mayat ibu dan ayahku. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku memotong lengan kiri Synyster lalu menyantapnya. Anehnya, kini aku tidak merasa mual. Aku pun menyantap daging Synyster hingga kenyang. Sesudah itu aku kembali ke ruang tv dan berbaring di sebelah Johnny dan Matthew. Terbesit di pikiranku untuk membunuh mereka berdua malam ini. Tapi aku mengurungkannya. Aku tidak ingin terburu-buru membunuh mereka. Tapi yang jelas aku pasti akan membunuh mereka suatu hari nanti dan merasakan daging mereka yang lezat itu. Tanpa kusadari aku telah menelan ludah berkali-kali membayangkan bagaimana daging mereka yang ku santap. Astaga, itu pasti sangat lezat!
Hari-hari berlalu. Makanan sehari-hari yang kumakan bukan makanan biasa lagi. Melainkan daging manusia. Karena aku akan merasa mual jika memakan makanan yang lain selain daging manusia. Beruntung aku masih punya sedikit stok daging mausia di rumahku yaitu sisa daging Zacky karena daging Synyster sudah habis ku makan. Sedangkan daging ayah dan ibuku sudah membusuk. Jadi aku tidak mau memakannya.
Hari ini aku di kejutkan oleh kedatangan Johnny dan Matthew di depan rumahku sambil membawa kue ulang tahun dan kado. Siapa yang ulang tahun? Oh, astaga, aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku pun menghampiri mereka sambil membawa pisau dapur yang ku sembunyikan di balik tubuhku.
“Selamat ulang tahun, Valencia.” Kata Matthew dan Johnny sambil masuk ke dalam rumahku.
“Astaga, bahkan aku sendiri lupa bahwa hari ini aku ulang tahun.” Balasku.
“Hahaha… untung saja aku ingat.” Ujar Matthew.
“Ayo, tiup lilinnya dan buat permintaan.” Kata Johnny.
Aku tersenyum ke arah mereka berdua. Lalu aku berbisik ke pada mereka,
“Kalian tahu apa yang ku inginkah di ulang tahunku kali ini? Aku ingin DAGING.” Bisikku.
“Kau ingin daging? Baiklah, ayo sekarang kita ke supermarket dan membeli beberapa daging untukmu.” Ajak Matthew.
“Bukan, aku tidak mau daging yang di supermarket.”
“Jadi? Kau ingin daging apa? apa kau ingin daging burger?” tanya Johnny.
“Bukan, aku ingin daging kalian. Daging manusia.” Bisikku lagi.
“Hahaha… kau pasti bercanda.” Kata Matthew.
“Aku serius.” Aku menunjukkan pisau yang tadi ku sembunyikan di balik tubuhku pada mereka. Mereka berdua sangat terkejut. Matthew menjatuhkan kue ulang tahun yang di bawanya lalu ia mencoba menjauh dariku. Begitu pula dengan Johnny.
“Valencia, apa yang kau lakukan? Letakkan pisau itu, atau aku akan panggil polisi!” ancam Matthew sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya. Aku berjalan mendekati meja lampu ruang tv lalu mengambil pistol di lacinya.
“Letakkan handphonemu sekarang!” balasku. Mereka semakin ketakutan lalu Matthew meletakkan handphonenya dan bergerak mundur. Sementara itu aku terus berjalan menghampiri mereka.
“Kalian tahu? Aku sudah lama sekali ingin mencicipi daging kalian yang enak itu. dan ternyata keinginanku bisa tercapai. Bahkan di hari ulang tahunku.”
“Valencia, tolong jangan…” kata Johnny.
“Val, kumohon…” tambah Matthew.
“Maafkan aku teman-teman. Tapi malam ini aku lapar sekali.” DOR! Aku menembakkan pistol ke dada Matthew. Tubuhnya jatuh dan tewas seketika.
“Sekarang giliranmu, Johnny.”
Aku mulai menghampiri Johnny namun ia segera berlari ke arah halaman belakang. Aku pun segera mengejarnya sebelum ia kabur dari rumahku.
Kemana dia? Aku tidak menemukannya disini. Aku memanggil-manggil namanya tapi dia tidak menyahut sekalipun. Tiba-tiba aku merasa suatu benda yang keras menghantam tengkukku. Aku tidak tahu benda apa itu, yang jelas itu terasa sangat sakit. Aku pun terjatuh dan melihat Johnny berlari ke atas loteng sambil membawa tongkat bisbol. Sial, rupanya ia ingin bermain-main denganku. Aku pun berdiri sabil meraba tengkukku yang masih terasa nyeri. Aku berjalan ke arah gudang dan mengambil kapak disana dan mencari Johnny lagi.
“Johnny, dimana kau? Keluarlah, aku berjani tidak akan marah padamu.” Kataku. “Kau ini sama seperti temanku, mencoba bersembunyi disini. Memangnya kau pikir aku tidak tahu dimana kau bersembunyi, hah?”
Aku membuka bekas kamarku dan menyalakan lampunya. Tapi aku tidak menemukan apapun disana. Tapi aku tetap masuk kedalam kamar itu dan mengunci pintunya sebab aku curiga bahwa Johnny sedang bersembunyi di dalam lemari.
“Kena kau!” seruku sambil membuka pintu lemari. Tapi aku tidak menemukan Johnny di sana. Hmm… dia mencoba menipuku. Namun tiba-tiba aku melihat sepasang kaki bersepatu laki-laki sedang terjulur dari bawah kolong ranjang. Tidak salah lagi ini pasti Johnny!
“Kau memang pintar bersembunyi, Johnny!” ujarku sambil menarik kakinya keluar.
“Aaaa… kumohon, jangan Valencia, jangan bunuh aku.” Jeritnya.
“Terlambat, Johnny.”
Johnny menarik kakinya dari genggamanku dan mencoba untuk membuka pintu yang sudah ku kunci.
“Johnny, kau butuh kunci untuk membukanya. Ini dia,”
Aku merogoh kunci yang ku tarus di saku celanaku dan hendak memberikannya kepada Johnny. Tapi aku menariknya kembali dan langsung mengayunkan kapakku dan membelah tepat dilehernya. Kepalanya melayang menghantam dinding dan tubuhnya ambruk ke lantai. Aku meletakkan kapakku dan membawa tubuh dan kepalanya turun dari loteng lalu meletakkan tubuhnya tepat di sebelah tubuh Matthew. aku juga memenggal kepala Matthew dan meletakkannya sejajar dengan kepala Johnny. Aku memotong-motong tubuh mereka lalu menyimpannya di kulkas. Sebagian dari itu sudah ku jadikan makan malamku yang lezat. Sementara itu kepala mereka berdua kupajang di ruang tengah.
“Terima kasih, Matthew, Johnny. Berkat kalian aku tidak akan kelaparan lagi.”