CRAZY LITTLE KILLER
Part 1
Aku benci
mereka! Mereka selalu menghinaku! Mereka bersikap buruk padaku, dan juga,
mereka mencampakkanku. Mengatakan sesuatu tentangku yang tidak benar. Mereka
selalu mempermalukan aku di depan banyak orang. Padahal mereka itu adalah teman
sekelasku sendiri. Mereka itu adalah Donna, Amanda, Brenda, Tanya, Renai, Dianna,
dan Rose. Aku benci mereka semua!
Seperti waktu
itu. Waktu itu adalah hari sabtu. Dimana semua siswa di sekolahku melakukan
kegiatan jalan santai. Mereka semua berpasang-pasangan. Tapi mereka tidak
mengajakku. Saat aku menghampiri mereka dan meminta untuk bergabung, mereka
hanya bilang,
“Kami sudah pas.
Kau cari saja teman yang lainnya.”
“Ya, cari saja
sendiri. Seperti tidak ada yang lainnya saja. Kenapa kau harus bergabung
bersama kami?”
Bodoh! Aku benci
kata-kata itu. aku sudah mencari teman yang lain, tapi nanti pasti mereka
menyinggungku dengan berkata,
“Pasti kau sudah
punya teman baru kan? Dasar tidak setia kawan. Pergi saja kau sana!”
Tapi jika mereka
sedang membutuhkan sesuatu dariku, mereka akan bersikap manis dan seakan
semuanya baik-baik saja. Teman macam apa itu? Datang padaku hanya saat mereka
membutuhkanku saja, tapi kalau mereka tidak membutuhkanku, mereka menghinaku,
mencampakkanku lalu meninggalkanku begitu saja.
Sampai suatu
saat aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka terhadapku. Aku ingin
menangis saja rasanya. Aku pun keluar dari kelas dan menuju ke toilet. Ku kunci
pintu toilet dengan rapat. Lalu aku menangis disana. Ya Tuhan, aku sudah tidak
tahan lagi. Bagaimana caranya aku mengatasi ini? Apa aku harus meminta ibuku
untuk memindahkanku ke sekolah lain? Oh Tuhan, aku tidak bisa berpikir lagi.
Apa aku… aku bunuh diri saja. Pastinya setelah itu mereka takkan mengusik
hidupku lagi. Tidak! aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak ingin bunuh diri.
Yang harusnya kubunuh adalah mereka. Ya, mereka. Aku harus melenyapkan mereka
dari dunia ini. Mereka harus lenyap!
Aku pun
menghentikan tangisanku. Mengelap air mataku lalu membasuh wajahku dan menatap
bayangan diriku di cermin. Ya, benar. pokoknya aku harus lenyapkan mereka. Aku
harus bunuh mereka. Tak ada ampun bagi mereka!
Tiba-tiba bel
pulang sekolah berbunyi. Aku segera keluar dari toilet. Mengambil tasku di
dalam kelas dan langsung berjalan ke luar gerbang sekolah. Saat di perjalanan
pulang sekolah, aku melewati toko mainan plastik. Disana aku melihat sebuah
topeng berwarna putih yang indah. Topeng yang pernah kulihat sebelumnya di film
Scream. Topeng itu pun membuatku tertarik. Aku pun masuk ke dalam toko itu. Aku
membeli topeng itu seharga 30 dollar. Setelah itu aku pun kembali berjalan
menuju rumah. Ah, aku sudah tidak sabar untuk mengguanakan topeng itu!
Sesampainya di
rumah ibuku menyuruhku untuk makan siang. Aku pun makan siang bersama dengan
kakakku, Jimmy. Setelah makan siang aku kembali masuk ke kamarku. Aku mengamati
bentuk topeng yang tadi ku beli. Bentuknya unik sekali. Sedikit menyeramkan
tapi aku sangat menyukai desainnya. Aku pun mencoba memakainya. Wah, aku
terlihat sangat keren dengan topeng ini! Aku sangat menyukainya.
Malam harinya
aku pun menyiapkan semua yang aku butuhkan untuk mmbunuh mereka satu persatu.
Malam ini aku berencana untuk membunuh Rose terlebih dahulu. Aku mengambil
ransel besarku dan aku pun menaruh pisau lipat, pisau daging, gunting, tali
temali, alat kejut listrik, dan masih banyak lagi. Sebenarnya aku juga ingin
membawa gergaji listrik milik ayahku, tapi itu tidak akan muat di dalam tas
milikku jadi aku memilih untuk tidak membawanya dan membawa bor listrik sebagai
gantinya.
Aku pun meminta
izin keluar rumah pada orang tuaku. Aku bilang aku ingin mengerjakan tugas
kelompok dengan teman-temanku. Orang tuaku pun mengizinkanku pergi. Sebenarnya
Jimmy menawarkan diri untuk mengantarkanku pergi, tapi aku menolaknya. Aku
memilih untuk pergi sendiri menggunakan mobil ayahku.
“Jangan pulang
terlalu larut malam, Valencia. Dan kau harus berhati-hati.” Pesan ayahku.
“Baik ayah.”
Aku pun masuk
kedalam mobil. Mengendarainya hingga ke sudut jalan yang sepi. Aku pun berganti
kostum di dalam mobil. Aku memakai jaket berwarna biru tua. Tidak lupa untuk
memakai sarung tangan juga agar sidik jariku tidak tertinggal di sana. Lalu aku
pun memakai topengku dan memakai penutup kepala agar rupaku tidak di kenali.
Setelah semuanya selesai, aku pun mengendarai mobil ayahku menuju ke rumah Rose.
Tidak sulit bagiku untuk menemukan rumahnya karena aku sudah pernah kesana
sebelumnya. Sesampainya di rumah Rose aku langsung keluar dari mobil dan
menyelinap ke pekarangan rumahnya. Aku membawa ransel besarku dan menaruhnya di
depan agar mudah bagiku untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Aku pun
mengendap-endap ke belakang rumahnya. Akhirnya aku pun sampai di jendela
kamarnya. Kebetulan juga saat itu jendelanya belum di tutup jadi aku tidak
perlu untuk memecahkannya lagi. Dengan mudahnya aku bisa masuk ke dalam
kamarnya. Aku bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Menunggu kedatangannya.
Tak lama
kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamar. Aku segera
bersiap. Aku melihat Rose masuk kedalam kamarnya lalu dia naik ke atas tempat
tidurnya. Rupanya ia tidak melihatku. Aku harus menunggunya sampai ia benar-benar
tertidur.
15 menit
kemudian aku mendengar suara dengkuran dari tempat tidurnya. Rupanya ia sudah
tertidur. Bagus, sekarang aku hanya butuh untuk keluar dari kolong tempat
tidurnya yang berdebu ini. Aku pun merayap pelan-pelan dan akhirnya aku
berhasil keluar dari kolong tempat tidurnya. Kulihat Rose yang sedang tertidur
pulas di tempat tidurnya. Lalu ku ambil pisau lipat dari dalam tas ransel yang
ku bawa. Lalu ku bekap mulutnya dengan saputangan dan ke torehkan pisau lipat
ke lehernya. Aku sangat menyukai saat aku melihat dia terbangun dan menyaksikan
cairah berwarna merah kental itu keluar dari lehernya.
“Mmmmhh… mmhh…”
erangnya. Tapi aku masih tetap membekap mulutnya. Kutusukkan pisau lipat itu
lebih dalam lagi ke lehernya. Dan akhirnya ia pun tak bergerak lagi. Meninggal.
Hahaha… aku senang sekali! Tapi aku masih belum puas dengan apa yang telah
kulakukan. Aku pun membuka lebar kelopak matanya lalu kucungkil matanya.
Setelah kedua bola matanya ku congkel dari kelopak matanya, aku pun
meletakkannya di samping ia tidur. Lalu aku keluar dari kamarnya dengan segera
agar tidak ketahuan. Aku pun melepas kembali kostumku serta mengelap darah yang
berlumuran di pisau lipat. Untung saja darahnya tidak mengenai jaketku atau
topengku. Jadi aku tidak perlu susah-susah untuk membersihkannya. Setelah berganti
kostum aku pun kembali pulang ke rumah.
Esok paginya di
sekolah, aku mendengar kabar bahwa Rose telah meninggal karena di bunuh oleh
seseorang tak di kenal. Teman-temanku menangis semua kecuali aku. Aku hanya
duduk di pojok kelas sambil menahan tawa. Mereka tidak mengetahui siapa pelaku
yang sebenarnya. Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan itu. Yang harus ku
pikirkan adalah bagaimana cara membunuh Tanya malam ini. Karena malam ini
adalah giliran dia untuk kubunuh.
Hari ini aku
pulang sekolah dengan perasaan yang sangat ceria. Lagi pula mereka tak banyak
mengangguku hari ini. Sesampanya di rumah aku bertemu Jimmy. Ia sedang duduk di
ruang TV.
“Jimmy, ibu
kemana?” tanyaku.
“Ibu sedang
pergi kerumah nenek.” Jawabnya.
“Benarkah? Aku
kira dia dirumah.”
“Memangnya
kenapa?”
“Tidak apa-apa
kok.”
“Oh iya, aku
baru saja membeli kaset film baru. Judulnya You’re the next. Kau mau tidak
menontonnya bersamaku?” tawarnya sambil memperlihatkan kaset filmnya ke arahku.
Wah, sepertinya itu film pembunuhan!
“Ayo! Aku mau.
Sebentar ya, aku ganti baju dulu.” Aku masuk kedalam kamar. Berganti baju lalu
menghampiri Jimmy yang telah menungguku. Lalu kami pun menonton film bersama.
Ternyata benar. itu memang film pembunuhan. Aku senang sekali. Aku jadi
mendapat ide untuk membunuh malam ini. Hahaha….
Malam harinya
aku bersiap-siap untuk beraksi lagi. Kali ini aku akan membunuhnya dengan
menggunakan pisau blender. Tapi untuk berjaga-jaga, aku mengambil pistol milik
ayahku secara diam-diam di kamar tidurnya. Aku pun meminta izin dengan kedua
orang tuaku untuk pergi. Lalu aku pun kembali mengendarai mobil ayahku untuk ke
rumah Tanya. Seperti kemarin, aku pun sudah berganti kostum.
Aku masuk ke
pekarangan rumahnya. Hmm… sepi sekali. Tiba-tiba aku melihat Tanya keluar dari
rumahnya. Hup! Aku segera bersembunyi di semak-semak yang rimbun di depan
rumahnya. Aku melihatnya sedang pergi ke warung yang ada tepatdi depan
rumahnya. Dia meninggalkan rumahnya tanpa menutup pintu. Tentu saja hal itu
memudahkanku untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah masuk kedalam, aku
bersembunyi di ruang tv rumahnya. Dengan televisi yang masih menyala, itu dapat
membuat langkah kakiku tak terdengar. Kebetulan sekali rupanya Tanya sedang
sendirian di rumahnya. Tiba-tiba Tanya datang dan langsung duduk di sofa di
ruang tv sambil membuka bungkus makanan ringan yang ia beli tadi. Aku segera
meraih benda apapun yang dapat ku raih disitu. Aku mendapatkan tongkat
baseball.
Sekarang aku
berdiri tepat dibelakangnya. Rupanya ia tidak menyadari kedataganku disini.
“Ehmm…” gumamku.
Dia menoleh dan berteriak. Aku segera mengayunkan tongkat baseball yang ku
pegang ke arahnya. Ia terjatuh. Kepalanya berdarah. Tapi ia bangkit dan
berusaha melawanku.
“Siapa kau?!”
teriaknya. Segera ku ambil pisau blender. Menyucuknya di stop kontak dan pisau
itu pun berputar. Aku menarik tangannya dengan kasar. Lalu kuletakkan pisau
blender itu tepat di kepalanya. Rambutnya yang panjang itu terlilit di pisau
blender. Ia berteriak-teriak kesakitan. Tapi pisau itu tetap saja berputar dan
menghancurkan kulit kepalanya. Tak lama kemudian ia pun meninggal. Terdapat
banyak darah dimana-mana. Darahnya mengenai jaket, sarung tangan dan topeng
yang ku pakai. Tak apalah, nanti akan ku cuci.
Aku mengambil
gunting dari dalam tas yang ku bawa. Lalu menggunting rambut Tanya yang
tersangkut di pisau blender. Aku membawa pulang pisau blender itu agar jejakku
tidak ketahuan. Belum puas, ku ambil bor listrik dari dalam ranselku dan
menyalakannya. Lalu kutusukkan bor itu di sisi kiri kepalanya dengan mantap.
Darah segar pun bermuncratan kemana-mana.
Aku melirik jam
tanganku. Sial! Ini sudah jam 11.30 malam! Aku kemalaman dan harus pulang
sekarang. Saat baru saja keluar dari rumah Tanya, aku melihat bayangan siluet
pria. Aku segera mengeluarkan pisau lipat dari kantung celanaku untuk
berjaga-jaga. Kali saja orang itu ingin berniat jahat padaku. Loh, tapi
bayangan itu seperti bayangan tubuh Jimmy. Aku membuka topengku dan
menghampirinya. Mau apa dia kemari?
“Dari mana saja
kau?” tanyanya. “Apa kau tidak tahu kalau ini sudah larut malam?”
“Aku tahu.”
Jawabku.
“Astaga! Kenapa
jaketmu berlumuran darah? Dan sarung
tangan itu… Kau baik-baik saja kan?” Jimmy tampak terkejut melihat jaket dan
topengku yang berlumuran darah.
“Ssshhh….” Aku
meletakkan telunjuk di depan bibirku sambil mendorongnya masuk ke dalam mobil
ayahku.
“Valencia,
sebenarnya ini ada apa?” tanyanya bingung.
“Tidak ada
apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Balasku sambil membersihkan darah yang ada
di topengku dengan tisu.
“Itu… itu darah
siapa?”
“Darah Tanya. Aku
baru saja membunuhnya. Aku meletakkan pisau blender dan bor listrik di
kepalanya.” Aku mengatakannya pada Jimmy. Mungkin aku sudah gila saat itu.
“Apa??? Astaga!
Sejak kapan kau menjadi pembunuh? Valencia, sadarlah! Kau tidak boleh seperti
itu! kau akan di penjara, Valencia! Dan kau akan…”
“Diam!! Kau
tidak mengerti kenapa aku melakukan ini, kau tidak mengerti! Dan kau tidak akan
mengerti!” bentakku.
“Baiklah,
sekarang jelaskan padaku kenapa kau bisa melakukan ini. Dan aku ingin bertanya,
apakah kau juga membunuh Rose?”
“Ya, aku juga
membunuhnya. Aku menusukkan pisau lipat di lehernya.”
“Kenapa kau
melakukan itu kepada teman-temanmu, kenapa Valencia?”
“Mereka bukan
temanku. Mereka adalah bajingan. Dan mereka adalah calon korbanku selanjutnya.”
“Apa? jadi kau
akan membunuh lagi?!!”
“Sssshhh! Kau
bisa diam tidak?!”
“Maafkan aku, Valencia.
Tapi, apa alasanmu melakukan ini pada mereka?”
“Mereka bersikap
buruk padaku. Mereka selalu menghinaku dan membuatku sakit hati. Kau tidak akan
pernah mengerti dengan perasaanku sekarang. Coba saja sekarang kau berada di
posisiku, kau pasti juga akan merasakan hal yang sama. Aku mencoba bersabar
menghadapi perlakuan mereka terhadapku, tapi mereka tidak pernah berubah. Sikap
mereka padaku semakin buruk. Mereka mencampakkanku. Sampai pada akhirnya aku
tidak tahan lagi dan memutuskan untuk melakukan ini.” Tak terasa air mata
mengalir dari sudut mataku. Jimmy mengusap air mataku.
“Aku mengerti, Valencia.
Tapi kau harus berhenti melakukan ini. Ini bukan hal yang baik.” Kata Jimmy.
“Tidak! aku
tidak akan pernah berhenti membunuh mereka sampai mereka semua lenyap! Aku
tidak mau.”
“Valencia,
bagaimana jika nanti ibu dan ayah mengetahuinya?”
“Jangan beritahu
mereka. Aku akan merahasiakannya. Begitu pula kau. Kau juga harus
merahasiakannya dari semua orang. Karena jika tidak, kau akan tahu akibatnya.”
“Baiklah,
baiklah. Kalau begitu aku ingin ikut denganmu. Aku akan membantumu.”
“Maksudmu?”
“Aku akan
membantumu membalaskan dendammu pada teman-temanmu itu. boleh kan?”
“Boleh, tapi kau
harus mengikuti syarat-syaratnya.”
“Apa saja itu?”
“Yang terpenting
adalah kau harus memakai topeng. Itu beguna untuk melindungi wajahmu. Dan kau
juga harus memakai sarung tangan agar sidik jarimu tidak tertinggal di tempat
kejadian. Dan kau harus memakai pakaian yang super tertutup.”
“Aku jadi
teringat dengan film yang kita tonton tadi. Baiklah, aku akan penuhi
syarat-syaratnya.”
“Dan yang paling
penting adalah jangan sampa ada orang lain yang tahu apa yang telah kita
lakukan. Kita harus pandai menghilangkan jejak. Dan jangan sampai polisi
menemukan kita.”
“Valencia, aku
tidak menyangka ternyata kau mempunyai jiwa pembunuh yang besar.” ujar Jimmy. Aku
mengacungkan pisau lipat yang kupegang ke arahnya.
“Jangan macam-macam
denganku!”
“Maaf.”
“Baiklah, kurasa
kita harus pulang.”
“Kau benar. Tadi
aku kemari dengan menggunakan motorku. Jadi kita akan pulang sendiri-sendiri.
Daahh..” Jimmy membuka pintu mobil dan berlari kecil menuju ke motornya. Lalu
mengendarainya menuju pulang kerumah. Ia mengacungkan jari jempolnya padaku.
Aku pun membalasnya.
Aku pun segera
menghidupkan mesin mobil lalu segera pulang ke rumah. Aku sangat senang karena
Jimmy menawarkan diri untuk membantuku. Tapi sebenarnya aku lebih suka membunuh
mereka dengan tanganku sendiri. Tapi tak apalah.
Sesampainya di
rumah aku melihat kedua orang tuaku sudah menungguku di depan pintu rumah. Ku
pikir mereka akan memarahiku, tapi ternyata tidak.
“Kau darimana
saja? Kami mencemaskanmu! Untung saja Jimmy mau menjemputmu.” Kata ayahku.
“Maaf ayah. Tadi
temanku minta ditemani sebentar karena dia sedang sendirian di rumahnya.”
“Valencia, kau
baik-baik saja kan? Kau tahu tidak? tadi pagi ibu mendengar berita pembunuhan
seorang gadis! Kau harus berhati-hati, nak. Dia satu sekolah denganmu. Apa kau
mengenalnya?” kata ibuku.
“Ya, dia
temanku. Semalam ada pembunuh yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya.”
“Benarkah? Kau
tahu darimana?” tanya ayahku.
“Aku
mendengarnya dari teman-temanku.”
“Baiklah,
sekarang kau harus tidur. Besok kau harus sekolah.”
“Dimana Jimmy?”
tanyaku.
“Dia ada di
kamarnya.”
“Apa tadi dia
ada berbcara sesuatu pada kalian?”
“Tidak ada. Tadi
dia hanya datang, menyapa kami sebentar lalu pergi masuk kdalam kamarnya.
Mungkin dia lelah dan sudah tidur.”
“Baiklah,
selamat malam ayah, ibu.”
Aku masuk
kedalam kamarku. Tapi aku tidak segera pergi tidur melainkan aku berusaha
menyembunyikan jaketku dan sarung tanganku yang terkena darah tadi. Bahaya jika
ibu atau ayahku menemukannya.
Setelah
menyembunyikannya di tempat yang aman, aku pun berusaha untuk tidur. dalam
bayanganku, aku berpikir siapa yang harus kubunuh besok. Dianna, Renai, Donna, atau
Brenda?
Pagi harinya aku
terbangun dan segera pergi mandi. Setelah mandi aku pun sarapan. Saat sarapan
bersama keluargaku, mereka dikejutkan oleh berita pembunuhan seorang gadis
dirumahnya. Mereka saja yang terkejut, bukan aku. Aku melihat wajah gadis itu
di sensor. Aku tahu bahwa itu adalah Tanya yang kubunuh tadi malam. Polisi
belum mengetahui dengan benda apa dia dibunuh. Tapi aku dan Jimmy tahu.
“Astaga, terjadi
pembunuhan lagi! Valencia, Jimmy, kalian berdua harus berhati-hati jika keluar
rumah. Sekarang pembunuh sedang berkeliaran.” Kata ibuku. Aku dan Jimmy saling
berpandangan.
“Ya ibu. Aku
tahu.” Jawab Jimmy sambil menggigiti roti cokelatnya.
“Valencia,
bukankah dia temanmu? Iya kan?” tanya ayahku. Ia mengenal Tanya karena dulu Tanya
sering bertamu ke rumahku.
“Ya, dia memang
temanku. Namanya Tanya. Tapi sekarang kami sudah jarang bertukar kabar dan kami
pun sudah tidak akrab seperti dulu lagi.”
“Kasihan sekali
dia.” Ujar ayahku. Setelah selesai sarapan, aku pun berdiri dari tempat
dudukku.
“Terima kasih
sarapannya. Sekarang aku harus berangkat sekolah.”
“Valencia,
tunggu! Ayah akan mengantarkanmu pergi ke sekolah.” Ayahku menghampiriku.
“Tidak usah
ayah. Aku lebih suka pergi kesekolah dengan berjalan kaki.”
“Tapi diluar
sana berbahaya, kau lihat kan? Pembunuh dimana-mana.”
“Ayah tenang
saja. Aku akan berjaga diri.”
“Sayang, biarkan
ayahmu mengantarkanmu pergi ke sekolah. Ya?” ibuku juga menghampiriku.
Tiba-tiba Jimmy juga menghampiriku.
“Ibu, ayah,
mungkin biar aku saja yang megantarkan Valencia pergi ke sekolah. Ya kan, Valencia?”
kata Jimmy.
“Jimmy!” kataku.
“Apa yang kau lakukan?”
“Ayo Valencia.
Aku akan mengantarkanmu kesekolah.” Jimmy menarikku masuk kedalam mobilnya.
“Jimmy!
Apa-apaan kau ini? Aku tidak ingin diantarkan pergi ke sekolah! Aku bukan anak
kecil lagi!” elakku.
“Valencia, tenanglah.
Aku melakukan ini agar ibu dan ayah tidak curiga. Aku akan mengatarmu dan aku
juga akan menjemputmu. Oke?”
“Jimmy, aku
tidak mau!” aku berusaha membuka pintu mobil. Tapi sia-sia. Jimmy sudah
menguncinya.
“Tenanglah Valencia,
kau tidak ingin mereka menjadi curiga kan?”
“Kau
menyebalkan!” ujarku. Jimmy hanya tersenyum-senyum.
“Kau tidak perlu
marah seperti itu. aku kan hanya ingin kau menunjukkan dimana letak toko yang
menjual topeng menyeramkan itu.”
“Jadi hanya
karena itu? astaga…”
“Ya, dimana letak
tokonya?”
“Di jalan
Hugfish di sebelah toko buah. Sudah jelas?”
“Wah, terima
kasih ya.” Kata Jimmy. Aku merasa ada yang aneh. Sepertinya Jimmy tidak
membawaku pergi ke sekolah melainkan membawaku ke suatu tempat.
“Kau akan
membawaku ke sekolah kan?” tanyaku.
“Tidak. Kita
akan bersenang-senang hari ini.” Jawabnya.
“Maksudmu, kau
menyuruhku untuk membolos sekolah?”
“Tepat sekali.”
“Tapi aku harus
pergi kesekolah untuk mengetahui keadaan mereka. Kau harus tau itu!”
“Sudahlah Valencia,
nikmati saja perjalanan kita.”
Mungkin Jimmy
bermaksud melarangku untuk berhenti membunuh. Ini tidak boleh dibiarkan! Aku segera
mengeluarkan pistol yang ku ambil tadi malam dari dalam tasku dan
menodongkannya ke arah Jimmy. Aku tidak segan-segan melukai orang yang
menghalangi rencanaku meskipun dia adalah keluargaku sendiri termasuk Jimmy.
“Bawa aku ke
sekolah sekarang, atau kuhancurkan otakmu!” kataku. Jimmy ketakutan.
“Baiklah,
baiklah. Kita akan pergi ke sekolah sekarang. Tapi tolong letakkan pistol itu
kembali ke dalam tasmu. Oke?”
Aku menaruh
pistol itu kembali ke dalam tasku. Jimmy tidak terlalu banyak bicara sekarang.
Tak lama kemudian aku sudah sampai di sekolah. Aku segera membuka pintu mobil
lalu membantingnya dari luar. Lalu aku masuk ke pekarangan sekolahku tanpa mengatakan
sepatah katapun pada Jimmy. Aku marah padanya. Karenanya aku menjadi terlambat
pergi ke sekolah. Akibatnya aku tidak dapat mengikuti pelajaran pertama dan
harus menerima hukuman. Aku di suruh berdiri di depan kelas sambil memandangi
matahari. Uh, untuk apa aku melakukan hal konyol itu?
Saat jam
istirahat tiba, aku bertemu dengan Dianna, Brenda, Donna, dan Amanda. Mereka
mentertawakan aku. Aku hanya diam menanggapinya. Karena aku tahu, dalam
hitungan hari, mereka semua akan kubunuh.
Hukumanku sudah selesai.
Sekarang aku sudah di perbolehkan pergi kemana-mana. Aku pun masuk kedalam
kelas. Di dalam kelas, aku mendapati Amanda, Renai, Donna, Dianna, dan Brenda
sedang bersedih. Dengan santainya aku berjalan melewati mereka berlima. Aku
duduk di tempat dudukku. Begitu saja sampai bel tanda masuk berbunyi.
Jam pulang telah
tiba. Aku segera pulang ke rumah tanpa menunggu Jimmy lagi. Namun tiba-tiba ada
sebuah mobil berwarna cokelat yang mengklaksonku. Sial, itu mobil Jimmy! aku
pun menghampirinya.
“Untuk apa kau
menjemputku? Aku tidak memintanya kan?” kataku.
“Tapi kan tadi
aku sudah bilang, aku akan menjemputmu. Ayo cepat naik!”
Aku masuk
kedalam mobilnya dengan wajah kesal.
“Maafkan aku
atas kejadian tadi pagi, Valencia. Padahal tadi pagi aku hanya ingin menajakmu
pergi jalan-jalan agar kau tidak stress.”
“Apa? jadi kau
pikir aku ini stress?!! Kau tahu tidak? berkat kau, aku jadi di hukum di
koridor sekolah. Belum lagi mereka yang mentertawakanku. Itu memalukan!”
omelku.
“Oke, oke. Aku
minta maaf sekali atas kejadian tadi pagi. Ku harap kau tidak membunuhku hanya
karena kesalahanku yang itu. kau mau memaafkanku kan?”
“Baiklah, aku
memaafkanmu kali ini. Tapi kalau lain kali kau seperti ini lagi, aku tidak
segan-segan untuk membunuhmu walaupun kau adalah kakak kandungku sendiri.”
“Oh iya, aku
sudah membeli topengnya. Mau lihat?”
“Mana?”
“Sebentar ya,”
Jimmy memberhentikan mobilnya di sudut jala yang sepi lalu membuka tasnya. “Ini
dia,” ia menunjukkan topeng vendetta berwarna kuning.
“Wow, keren. Aku
suka topengmu.”
“Terima kasih.
Oh iya, aku punya ide untuk pembunuhan selanjutnya.”
“Seperti apa?”
“Kita culik
mereka, lalu aku akan membiarkanmu mengintrogasi mereka, atau apalah. Terserau
kau mau di apakan. Bagaimana?”
“Ide bagus!
baiklah. Nanti malam kita akan akan melakukannya. Persiapkan semua benda yang
ingin kau pakai untuk membunuh mereka. Tunggu, setelah kita menculik mereka,
kita akan menaruh mereka dimana? Tak mungkin jika kita menaruh mereka di rumah
kita kan?”
“Tenang saja.
Tadi ibu dan ayah bilang bahwa malam ini mereka akan pergi ke rumah nenek dan
mungkin besok baru mereka pulang. Jadi kita puas melakukan apa saja malam ini.”
“Benarkah? Bagus
kalau begitu. Kita menaruh mereka di garasi saja. Bagaimana?”
“Boleh saja.”
Malam harinya
setelah kedua orang tuaku pergi, aku dan Jimmy mulai bersiap-siap. Kami berdua
berpakaian layaknya pembunuh kelas kakap. Setelah itu kami berdua pergi ke
rumah mereka. Pertamanya kami pergi ke rumah Donna dulu. Setelah sampai di
rumah Donna, kami pun masuk pelan-pelan ke halaman rumahnya. Jimmy memencet bel
rumahnya lalu bersembunyi di dekat tembok rumahnya. Itu dia! Donna membuka
pintu. Mungkin karena ia penasaran jadi ia pergi ke luar. Menatap
kesekelilingnya. Jimmy segera mendekap Donna dan membekap mulutnya menggunakan
saputangan yang sudah di beri cairan khusus. Donna pun pingsan. Aku dan Jimmy
bersusah payah membawanya ke dalam mobil tapi akhirnya kami berhasil
memasukkannya.
Selanjutnya ke
rumah Brenda, kami melakukan hal yang sama untuk memanggilnya keluar dari
rumahnya. Lalu kerumah Amanda, kerumah Renai, dan selanjutnya ke rumah Dianna.
Setelah semuanya terkumpul, aku dan Jimmy membawa mereka ke rumahku. Tepatnya
di garasiku yang sudah kusiapkan dengan alat-alat khusus. Seperti tali, lakban,
pisau, gergaji listrik, dan benda tajam lainnya. Aku dan Jimmy mengikat mereka
dengan jarak yang jauh. 1 meter setiap satu orang. Agar mereka tidak mampu
meloloskan diri. Terakhir, aku dan Jimmy melakban mulut mereka agar jika bangun
nanti mereka tidak berisik.
Aku dan Jimmy
duduk tepat di depan mereka. Mengamati wajah mereka satu per satu. Kami masih
memakai topeng dan akan melepasnya jika mereka sudah tersadar nanti.
“Valencia, ini
pertama kalinya aku akan membunuh orang. aku tidak yakin apakah aku akan
melakukannya dengan baik.” Kata Jimmy.
“Sudahlah, kau
pasti bisa melakukannya. Membunuh orang itu mudah, tapi menghilangkan jejak itu
yang susah.”
“Kau benar.
Setelah mereka mati nanti, kita akan apakan mereka?”
“Terserah kau
saja. Tapi aku ingin mereka dimutilasi dulu. Setelah itu terserah saja ingin di
apakan lagi.”
“Hah?
Memutilasinya? Yang benar saja kau ini. ”
“Memangnya
kenapa? Kau keberatan?”
“Ti… tidak kok.”
“Sekarang kita
akan apakan mereka?” tanya Jimmy.
“Aku punya ide!”
aku mengambil penyiram tanaman lalu mengisinya dengan air. Setelah itu aku
menyiramkannya ke arah mereka. Mereka pun tersadar dan megap-megap. Lalu
histeris saat melihat kami berdua di depan mereka. Hasrat ingin membunuh di
dalam diriku mulai muncul.
“Kalian sudah
bangun?” tanyaku. “Apakah kalian tidur nyenyak?”
“Mmm!! Mmm!!”
gumam mereka. Aku tersenyum kecil lalu menghampiri Donna.
“Apa kau
mengenalku?” dia menggeleng. “Kasihan, tidak bisa berbicara ya? Baiklah, aku
akan melepaskan lakbannya. Tapi berjanjilah untuk tidak berteriak atau kau akan
merasakan timah panas yang menembus kepalamu. Jimmy, siapkan pistolnya!”
“Sudah
kusiapkan!” sahut Jimmy. Lalu aku menarik lakban yang menempel di bibir Donna
dengan kasar dan itu menimbulkan bekas merah di daerah sekitar bibirnya.
“Lepaskan aku!”
teriaknya.
“Eits, tadi kan
aku sudah bilang kau tidak boleh berteriak!” kataku. Jimmy segera datang dan
menodongkan pistol di kepala Donna.
“Baiklah,
baiklah. Aku tidak akan berteriak.” Ia ketakutan. “Si.. siapa kalian?”
“Kami? Apa kau
tidak mengenali kami? Bodoh sekali. Paling tidak kalian mengenalku.”
“Siapa kau?”
“Apa kalian tahu
seorang gadis malang yang selalu kalian hina dan kalian ejek? Bahkan tadi pagi
kalian mentertawakannya karena dia di hukum. Kalian ingat?” mereka semua
terdiam. “Apa kalian ingat itu semua?!!” bentakku.
“Ya, ya, aku
ingat. Maafkan aku, Valencia. Maafkan aku.” Kata Donna. Aku membuka topengku.
Jimmy juga melepas topengnya
“Terlambat
bagimu untuk mengatakan maaf. Aku tidak akan menerima maafmu lagi. Kalian semua
sudah banyak menyakiti hatiku. Kalian mencampakkanku, mempermalukanku di depan
banyak orang. Apa itu kesalahan yang mudah untuk di maafkan?!!” PLAKK!! Aku menamparnya
sampai bibirnya berdarah.
Lalu aku
menghampiri Brenda, Renai, Dianna, dan Amanda. Aku melepaskan lakban yang
menempel di bibir mereka.
“Valencia,
kumohon, maafkan aku.” Kata Amanda.
“Ya, Valencia,
maafkan kami.” Ujar Renai.
“Tidak ada maaf
bagi kalian.” Balasku. “Jimmy, tolong ambilkan palu.” Jimmy mengambilkanku
palu.
Kemudian aku
mengayunkan palu itu ke kepala Amanda dengan sekuat tenaga. BUK!! Dan sekali
lagi. Dan lagi. Kini ia sudah diam dan tak bernyawa. Aku tersenyum licik pada Brenda,
Dianna, Renai, dan Donna.
“Apa kau juga
ingin seperti itu?” tanyaku.
“Tidak! Valencia,
kumohon jangan! Maafkan kami, tolong. Jangan lakukan itu pada kami!” aku
menyerahkan palu yang ku pegang pada Jimmy.
“Sekarang
giliranmu.” Kataku.
“Tidak Valencia,
aku tidak membunuh mereka menggunakan ini, tapi aku ingin menggunakan ini.”
Jimmy menunjukkan kapak padaku.
“Bagus!”
Jimmy
menghantamkan kapak ke arah leher Brenda. Tepat di urat nadinya. Brenda sempat
tersedak darahnya sendiri sampai akhirnya benar-benar tewas.
“Jadi, kalian
bertiga ingin di bunuh dengancara yang bagaimana? Di tusuk dengan pisau lipat
seperti Rose, atau menggunakan pisau blender dan bor listrik seperti Tanya,
atau menggunakan palu seperti Amanda, atau menggunakan kapak seperti Brenda.
Kalian ingin yang mana?” tawarku.
“Tidak yang
mana-mana. Tolong lepaskan kami, Valencia.” Kata Donna.
“Ya, Valencia.
Tolong…” DOR!! Tiba-tiba Jimmy menembak kepala Dianna dengan pistol. Ia tewas
seketika.
“Wow, kau hebat,
Jimmy. Tapi lain kali kau harus lebih hati-hati menggunakannya.” Kataku.
“Terima kasih, Valencia.
Nanti akan kucoba untuk menembaknya dengan benar.” jawab Jimmy.
“Nah, Donna,
Renai, sekarang kalian tinggal sendirian dan pastinya kau berdua tahu sekarang
adalah giliran kalian.”
“Valencia,
kumohon jangan! Jangan lakukan itu padaku!” kata Renai.
“Ya, Valencia.
Biarkan kami hidup.”
Aku segera
mengambil obeng dan menusukkannya ke perut Donna. Sedangkan Jimmy menghampiri Renai.
“Aaaahh…” jerit
Donna. Lalu aku mengambil tang untuk menjepit urat nadi yang ada di lehernya
sampai putus. Kemudian ku ambil pisau lipat untuk menusuk-nusuk perutnya
berulang-ulang kali sampai akhirnya ia meninggal.
Aku melihat ke
arah Jimmy. Ia mengambil parang lalu ia menebas kepala Renai sampai terlempar
kira-kita 2 meter.
“Jimmy, kau
keren sekali!” Kataku.
“Terima kasih, Valencia.”
Balasnya. Aku mengambil gergaji listrik dan menyalakannya.
“Kau akan apakan
benda itu? Tolong jangan bunuh aku, Valencia!” kata Jimmy.
“Bodoh! Siapa
yang ingin membunuhmu? Aku kan ingin memotong-motong tubuh mereka. Apa kau
tidak ingat bahwa kita akan memutilasinya?” Jawabku.
“Baiklah, aku
akan membantumu melakukannya.”
Aku dan Jimmy
sibuk meotong-motong tubuh mereka menjadi bagian yang kecil-kecil. Setelah itu
kami memasukkannya kedalam kantong plastik sampah dan ingin membuangnya. Tapi
saat keluar dari garasi, dua anjing kami menikuti kami. Sepertinya ia mencium
bau amis dari dalam bungkusan yang kami bawa. Akhirnya aku dan Jimmy memutuskan
untuk memberikannya kepada anjing kami saja. Kami biarkan mereka memakannya
dengan rakus. Kecuali kepalanya. Aku dan Jimmy menghancurkan tengkoraknya
sampai rata dan membuangnya ke hutan-hutan untuk membiarkan itu dimakan babi
hutan. Kebetulan di belakang rumah kami ada hutan yang cukup luas. Lalu kami
kembali ke garasi untuk membereskan semuanya. Kami mengepel lantai untuk
menghilangkan darah yang berceceran dimana-mana.
Semuanya sudah
selesai. Kami berdua pun pergi mandi. Setelah mandi kami menonton TV bersama di
ruang TV dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Seolah semuanya baik-baik
saja. Tapi kami berdua sangat kelelahan.
“Hari yang
sangat melelahkan. Tapi aku sangat senang!” kataku.
“Ya, kau benar. Tapi,
apa kau tidak menyesali perbuatanmu, Valencia?”
“Untuk apa
menyesalinya? Toh, dulu mereka selalu menghinaku dan bersikap buruk padaku. Aku
sudah terlalu membenci mereka."
“Setelah ini apa
yang akan kau lakukan?”
“Terus
membunuh.”
Jimmy
merangkulku.
“Aku mengizinkan
kau membunuh siapapun asalkan kau tidak membunuh kedua orang tua kita dan keluarga
kita. Aku sangat menyayangi mereka. Aku pun juga sangat menyayangimu, Valencia.”
Kata Jimmy.
“Ya. Tapi kalau
mereka menyakiti perasaanku, mengapa tidak?”
“Ya jangan
sampai.”
“Atau aku yang akan
membunuhmu! Hahaha…” candaku sambil menodongkan pisau lipat ke arah Jimmy. Ia
terkejut dan segera menjauh. Tiba-tiba hasrat untuk membunuh di dalam diriku
muncul lagi. Kini lebih besar dari pada sebelumnya. Aku pun bangkit dari kursi
dan mengejar Jimmy yang menjauh dariku.
“Jimmy, kau mau
kemana? Kenapa kau berlari menjauh dariku? Bukankah tadi kau bilang kau sayang
padaku? Hahaha…” ya, aku memang bernar-benar gila sekarang. Aku terus mengejar
Jimmy dan ketika aku mendapatkannya, aku menusukkan pisau lipat yang ku bawa
tepat di mana jantungnya berada. Jimmy tewas seketika. Aku pun tertawa
sekeras-kerasnya. Aku benar-benar puas dengan apa yang kulakukan sekarang. Dan
ketika orang tuaku datang nanti, aku ingin memberikan mereka kejutan. Aku yakin
mereka pasti akan menyukainya.
CRAZY LITTLE KILLER
Part 2
Malam ini begitu
cerah. Secerah hatiku saat ini. Aku duduk sendirian di balkon rumahku. Aku
teringat kejadian tadi pagi pada saat aku menghabisi nyawa kedua orang tuaku. Aku sedang menguliti mayat Jimmy saat mereka datang. Lantas saja mereka
sangat terkejut dan memarahiku. Ayahku hendak menelepon polisi. Tapi aku
langsung menembak dadanya dengan pistol. Ia tewas seketika. Ibuku terlihat
sangat ketakutan. Ia berusaha lari dariku. Namun ia kalah cepat dariku aku
segera mengambil gergaji listrik lalu aku memenggal kepalanya dengan satu
tebasan. Aku masih menyimpan mayat ibu dan ayahku di dalam gudang. Sedangkan
mayat tubuh Jimmy yang sudah ku potong-potong, kumasukkan di dalam kardus dan
kuletakkan di atas meja makan. Aku
merasa malas untuk pergi keluar dan membuangnya di tempat sampah. Hanya saja,
kedua anjingku terus mencoba membuka pintu gudang. Mungkin mereka mencium bau
darah segar dari dalam sana.
Entah mengapa
semenjak pertama kali aku membunuh, aku merasa ingin membunuh lagi, lagi, dan
lagi. Padahal, pada awalnya aku hanya ingin membunuh tujuh teman palsuku itu.
Tapi pada akhirnya aku menjadi ketagihan. Aku merasa sangat senang apabila
melihat orang lain merasa kesakitan ataupun ketakutan. Apalagi jika melihat
mereka semua mati di tanganku.
Saat aku sedang
asik membayangkan kejadian tadi siang, tiba-tiba aku mendengar suara barang
jatuh dari arah ruang makan. Aku pun berdiri dari kursi dan segera menuruni
tangga. Sesampainya di bawah, kudapati anjingku sedang mengendus-endus kardus
yang berisi mayat Jimmy. Huh, anjing sialan. Pasti mereka telah menjatuhkan
kardus itu. Untung saja isinya tidak tertumpah keluar. Kalau isinya tertumpah
kan, aku pasti repot membersihkannya. Tapi aku merasa kasihan dengan anjingku.
Mungkin ia kelaparan. Aku pun membuka kardus itu dan mengeluarkan sepotong kaki
Jimmy lalu kulemparkan ke kedua anjingku. Mereka berdua pun langsung
melahapnya.
Melihat anjingku
yang sedang lapar itu makan dengan rakusnya, aku pun juga ikut lapar. Aku
membuka kulkas dan melihat isinya hanya bir, air mineral, telur, sosis, kornet,
keju, sayur-sayuran, buah-buahan, makanan ringan dan daging sapi. Ah, bosan.
Aku kembali menutup kulkasku. Aku mencari sesuatu yang enak untuk di makan.
Tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk memasak daging Jimmy menjadi sebuah sup.
Mungkin rasanya akan lebih enak. Aku pun mengambil potongan tubuh Jimmy dan
mencucinya hingga bersih. Setelah itu aku membuat bumbu-bumbunya. Tak lama
kemudian jadilah sup dari potongan tubuh Jimmy. Aku pun mencicipinya. Mm… rasanya
enak sekali. Lebih enak dari daging apapun. Aku tidak pernah menyangka rasa
daging manusia seenak ini. Aku pun menyantapnya hingga habis tak tersisa.
Setelah makan
malam yang enak itu, aku pun berjalan menuju ke ruang tv dan menonton tv.
Mencari-cari acara tv yang bagus untuk ku tonton. Saat aku sedang asik menonton
tv, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Aku sempat menyembunyikan
kardus berisi potongan tubuh Jimmy di dalam gudang sebelum membukakan pintu
untuk seseorang di luar sana. Setelah kupikir sudah aman, aku pun membukakan
pintu untuk orang itu.
“Hai Valencia.
Selamat malam.” Ternyata yang datang adalah Synyster dan Zacky, teman
sekelasku.
“Selamat malam.
Silakan masuk.” Kataku.
Mereka berdua
pun masuk dan duduk di ruang tv.
“Maaf ya, kami
datang tiba-tiba. Oh iya, tadi kenapa kau tidak masuk sekolah?” tanya Zacky.
“Tadi aku tidak
masuk sekolah karena aku kesiangan.” Jawabku berbohong.
“Benarkah?
Kenapa kau tidak menyuruhku untuk membangunkanmu saja?” kata Synyster.
“Sebenarnya,
untuk apa kalian datang kemari?”
“Ini, kami ingin
mengajakmu untuk mengerjakan pr bersama-sama. Boleh kan?”
“Tentu boleh. Pr
apa?”
“Pr matematika.
Bantu kami ya, Valencia, kau kan pintar matematika.”
“Baiklah.
Sebentar ya, aku ambilkan minuman dulu.” Aku beranjak dari sofa dan menuju
dapur lalu mengambilkan beberapa bir dan makanan ringan untuk kedua temanku
itu. Aku mengambil pisau dapur untuk berjaga-jaga jika salah satu dari mereka
sudah mengetahui apa yang telah kulakukan tadi.
Setelah dari
dapur, aku menuju ke kamarku untuk mengambil buku pelajaranku. Sesudah itu aku
pun kembali ke ruang tv.
“Ini, minumlah.”
Ujarku sambil menaruh bir dan makanan ringan di meja.
“Kau bercanda?
Ini kan makanan ringan, apa kau menyuruh kami untuk meminumnya juga?” canda
Synyster. Dia memang suka bercanda.
“Baiklah. Kalau
begitu, minum dan makan.” Aku mengalah.
“Nah, begitu kan
baru sesuai.”
Kami pun
mengerjakan pr itu bersama-sama. Setelah mengerjakan pr kami pun bersantai
bersama dan mengobrol.
“Kau tahu Val?
Saat di sekolah tadi, orang tua Amanda,
Renai, Donna, Dianna, dan Brenda melaporkan bahwa anak mereka hilang.” Kata Zacky.
“Benarkah?
Hilang dimana?”
“Aku juga tidak
tahu. Orang tuanya curiga dengan pembunuh yang membunuh Tanya dan Rose yang
menculik mereka.”
“Astaga, kasihan
sekali mereka.”
“Oh iya,
bagaimana kalau kita bantu mencarinya?”
“Apa?
mencarinya? Tidak ah, aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk mencari
mereka.”
“Kenapa? Dia kan
temanmu juga.”
“Mereka bukan
temanku. Toh, dulu mereka sering menghinaku dan mengejekku kan. Bahkan, mereka
pernah mempermalukanku di depan kalian berdua kan?”
“Iya sih, mereka
memang terlihat jahat padamu. Tapi, apa salahnya? Mereka kan teman kita.” Kata
Synyster.
“Tidak. aku
tidak pernah mengakui mereka sebagai temanku.”
“Oh, baiklah. Terserah
kau saja.” Synyster meneguk birnya.
Aku mengambil
pisau dapur yang ku sembunyikan di balik buku pelajaranku dan menunjukkannya
kepada mereka berdua. Synyster pun tersedak karena terkejut.
“Val… Valencia,
apa yang kau lakukan?” Synyster mulai bergerak menjauh dariku. Begitu pula
dengan Zacky. Ia terlihat ketakutan.
“Kalian ini
kenapa? Aku kan hanya ingin memotong apel ini.” Kataku santai.
“Huufftt…
syukurlah. Aku pikir kau ingin membunuh kami.” Ujar Zacky.
Aku memotong
sebuah apel dan membaginya kepada mereka.
“Terima kasih,
Valenicia.” Kata Zacky.
“Ibu dan ayahmu
kemana? Aku juga tidak melihat Jimmy sedari tadi.” Tanya Synyster sambil
menggigiti apelnya.
“Oo.. itu.
Mereka bertiga sedang pergi berlibur.”
“Benarkah? Tapi
kenapa kau tidak ikut?”
“Tidak. Aku
lebih suka diam di rumah daripada jalan-jalan.”
“Oo… begitu ya.”
“Ya,”
Waktu terus
berlalu. Kini sudah tiba tengah malam.
“Wah, sudah
tengah malam. Zacky, ayo pulang!” kata Synyster.
“Tidak usah
pulang. Kalian menginap disini saja. Besok kan juga hari Minggu.” Ujarku.
“Ya, Valencia
benar. Lagi pula aku sedang malas pulang ke rumah.” Zacky melepas jaket yang
sedari tadi ia pakai dan menunjukkan tubuhnya yang kekar itu.
“Baiklah kalau
begitu.” Synyster lanjut membuka kaleng bir keempatnya.
Aku sengaja
membiarkan mereka semua menginap dirumahku. Siapa tahu nanti aku bisa membunuh
mereka dan merasakan daging mereka terlihat lezat itu. Aku menelan ludah. Ah,
aku sudah tidak sabar untuk mencicipi daging mereka.
Sebelum tidur,
aku telah mengunci rapat-rapat semua pintu dan jendela yang ada di rumahku. Tak
lupa untuk menyimpan kuncinya di tempat yang aman agar mereka tidak
menemukannya.
Keesokan harinya
aku bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan. Untung saja aku masih
mempunyai sisa daging Jimmy yang kutaruh di kulkas. Karena hari ini aku akan
memasak sup yang enak seperti tadi malam lagi.
Hmm… baunya
lezat sekali. Tak lama kemudian Synyster dan Zacky datang menghampiriku.
“Valencia, kau
sedang memasak apa? Sepertinya sangat lezat. Sampai-sampai aku terbangun di
buatnya.” Tanya Zacky.
“Aku sedang
memasak sup.”
“Sup apa?” tanya
Synyster yang masih terkantuk-kantuk.
“Sudahlah, tidak
usah banyak tanya. Nanti kau pasti juga akan merasakan kelezatannya.”
“Baiklah.”
Synyster dan Zacky duduk di kursi makan. Tapi kaki Synyster sempat terhantup
kaki meja saat itu.
“Aduh!”
pekiknya. Zacky tertawa.
“Syn, Syn, kau
ini mabuk ya? Haha..”
“Biarkan saja, Zacky.
dia mungkin masih setengah nyawa.” Balasku. Synyster hanya tersenyum-senyum.
Sup spesial
buatanku sudah terhidang di meja makan. Aku pun sarapan bersama dengan kedua
temanku itu.
“Mm… enak
sekali.” Kata Synyster.
“Ya, benar. ini
sangat-sangat enak. Valencia memang pintar memasak ya,” sambung Zacky.
“Aku boleh
menambah kan?” ujar Synyster.
“Aku juga ya?”
“Ya, ya. Kalian
boleh menambah. Tapi jangan lupa untuk membayarnya. Hahaha…” candaku.
“Aku bersedia
membayar berapapun untuk makanan enak seperti ini.” Kata Zacky.
Aku menatap
mereka yang sedang sarapan. Dalam hati aku tertawa. Mereka tidak tahu apa yang
telah mereka makan. Tak lama kemudian mereka sudah selesai makan dan
meninggalkan sisa-sisa tulang di mangkuk mereka.
“Ah, akhirnya
aku kenyang juga. Terima kasih, Valencia.” Kata Synyster sambil mengelus
perutnya. Sedangkan Zacky masih menggerogoti sisa-sisa daging di tulang-tulang
jari-jemari Jimmy.
“Oh iya, kau
masih belum memberi tahu kami, Valencia. Ini sup daging apa? daging ayam ya?”
tebak Synyster.
“Bukan.”
“Jadi?”
“Aku tidak akan
memberitahu kalian. Aku ingin kalian yang mencari tahu sendiri.”
“Bagaimana
caranya?” tanya Zacky.
“Entahlah. Atau
kalian bisa menyusun kerangka tulang-tulang yang ada di mangkuk kalian.”
“Kau benar!”
Synyster dan Zacky pun menyusun kerangka tulang-tulang itu. dan akhirnya itu
semua terbentuk seperti kerangka tulang jari-jemari manusia.
“Yeay! Sudah
selesai!” ujar Synyster. Sementara itu Zacky terbelalak melihat susunan tulang
yang baru saja ia buat dengan Synyster.
“Nah, jadi itu
berbentuk apa?” tanyaku.
“Apa ya?”
Zacky menepuk
bahu Synyster. Dan berkata,
“Aku sudah tahu
apa yang baru saja kita makan. Itu adalah…”
“Bagus! berarti
kau sudah mengerti sekarang kan?” aku memotong ucapan Zacky.
“Tunggu, yang
kita makan tadi itu apa sih?” tanya Synyster.
“Itu adalah
daging manusia. Tepatnya tadi itu adalah sup tangan Jimmy.” jelasku.
“APA??!!” mereka
berdua terkejut. Synyster dan Zacky berlari ke arah kamar mandi dan muntah di
sana. Aku tersenyum licik. Kemudian aku mengambil pisau dapur dan berjalan
menghampiri mereka.
“Bagaimana?
Supnya enak kan?” kataku.
“Val… Valencia,
aku tidak pernah mengira bahwa kau adalah kanibal! Kau memakan potongan tubuh
kakakmu sendiri!” kata Zacky.
“Lalu apa
masalahmu? Kau kan tadi juga memakannya.”
“Ss.. Syn, cepat
telepon 911!” ujar Zacky. Synyster mengambil handphone dari sakunya dan
menelepon 911.
“Halo, panggilan
darurat? Tolong kami…” aku segera mengambil handphone Synyster dari tangannya dan
membantingnya di lantai hingga layarnya pecah.
“Valnecia, apa
yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu bahwa harga handphone ku itu mahal
sekali!” kata Synyster.
“Lebih mahal
mana dengan nyawamu, bodoh!? Ayo, kita lari!” kata Zacky sambil menarik tangan
Synyster untuk lari. Mereka naik ke loteng rumahku. Aku pun menyusul mereka.
Saat di loteng,
aku berusaha mencari mereka. Susah sekali mencari-cari mereka. Akhirnya aku pun
kembali turun ke bawah untuk memancing mereka untuk keluar dari tempat
persembunyian. Namun saat aku baru menuruni tiga anak tangga, ada seseorang
yang mendorongku dan akhirnya aku pun jatuh terguling kebawah. Sial, itu adalah
Zacky. Aku meraba bibirku yang terasa agak nyeri. Berdarah. Aku pun geram. Lalu
aku mengambil kapak di garasi dan kembali naik ke atas loteng.
“Synyster, Zacky,
dimana kalian? Percuma saja kalian bersembunyi. Ini kan rumahku, aku pasti tahu
dimana kalian bersembunyi.” Kataku sambil menyeret kapak yang kubawa ke lantai.
Aku berjalan ke
arah satu-satunya kamar kosong di sana yang merupakan bekas kamarku dulu. Entah
mengapa aku mempunyai firasat yang kuat bahwa mereka sedang berada di dalam
sini. Aku pun membuka pintunya. Dan benar saja, mereka berdua sedang
bersembunyi di dalam sana. Kemudian aku menyalakan lampunya.
“Kena kalian!
Sekarang kalian mau pergi kemana, hah?”
“Ampun,
Valencia. Jangan bunuh kami, ku mohon.” Kata Zacky.
“Ya, Valencia.
Dan jangan makan kami. Daging kami rasanya tidak enak. Rasanya keras.” Sahut
Synyster.
Aku menghampiri
mereka berdua.
“Tak ada ampun
bagi kalian berdua. Kalian berdua harus mati!”
Synyster dan Zacky
bergerak menjauh dariku. Namun terlambat,
aku sudah berhasil mengkapak perut Zacky dan menyebabkan ususnya
terburai keluar. Zacky pun terbaring tak berdaya menahan sakitnya.
“Astaga! Zacky!
Sahabat terbaikku. Aku tidak kan pernah memaafkanmu, dasar jalang!” Synyster
menghampiriku.
“Mau apa kau?”
aku mengayunkan kapak ke arah leher Synyster. Namun tidak kena karena ia
berjalan mundur dan terjatuh.
“A… ampun,
Valencia. Maafkan kata-kataku tadi. Tolong jangan bunuh aku.” Ujar Synyster.
“Syn… Synyster…
kau harus lari, kawan.” Rupanya Zacky masih hidup. Aku pun menghampiri Zacky
yang sedang sekarat itu.
“Lari Syn,
lari..” ujarnya lagi.
“Aku tidak bisa
lari lagi! Aku lumpuh karena ketakutan!” Jawab Synyster.
“Kalau begitu...
kalau begitu kau merangkak saja. Dengan begitu kau bisa pergi dari…”
“Dasar brengsek!
Kau bisa diam, tidak?!!!” BUK! Aku menghantamkan kapak ke leher Zacky sehingga
kepalanya terpisah dari badannya.
“Nah, sekarang
dia sudah tewas. Sekarang giliranmu.” Gumamku sambil menghampiri Synyster yang
berdiam di pojok kamar. Aku senang sekali menatap wajahnya yang ketakutan itu.
“Sekarang bagaimana?”
tanyaku pada Synyster.
“Aku… aku pasrah
saja. KAU BUNUH SAJA AKU!! Tidak ada pilihan lain lagi. Penggal kepalaku,
penggal! Biarkan saja aku merasakan sakitnya.” Aku tersenyum mendengar
perkataan Synyster seperti itu. Sepertinya ia begitu siap untuk merasakan rasa
sakit.
Aku meletakkan
kapakku lalu aku naik ke atas tubuhnya.
“Kau benar-benar
ingin mati ya?”
Synyster
mengangguk. Kulihat ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.
“Cup, cup, cup.
Jangan menangis, sayang. Ini tidak seperti yang kau kira.” Aku tersenyum lalu
aku mengenggam lehernya dengan kedua tanganku. Lama-kelamaan genggaman tanganku
itu menjadi cengkraman yang kuat. Sangat kuat sehingga membuat Synyster menjadi
sesak nafas dan terbatuk-batuk.
“Uhuk! Uhuk!
Uhuk!”
“Bertahanlah, Syn.
Tadi kau bilang kau siap untuk mati kan?” aku memperkuat cengkramanku. Akhirnya
Synyster pun tak bernafas lagi. Tewas.
Aku menyeret
keluar mayat mereka keluar dari kamar kosong itu dan membawanya ke gudang di
bawah. Menumpuknya bersama dengan mayat ayah dan ibuku. Setelah itu aku
mengunci pintunya dengan rapat lalu aku pergi ke luar rumah dan bersantai di
teras.
Kulihat di teras
rumah tetanggaku ada Matthew yang sedang bersantai juga. Ia tersenyum ke
arahku. Aku pun membalas senyumnya. Matthew merupakan salah satu tetangga yang
dekat dengan keluargaku termasuk aku. Dulu ia sering datang kerumahku untuk
sekedar bermain video game bersama Jimmy ataupun bermain bola basket bersamaku.
Tapi sekarang tidak lagi karena mungkin ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa ku sadari,
ternyata sedari tadi Matthew memanggilku untuk datang ke rumahnya. Aku pun
mengangguk dan segera mengunci pintu rumahku lalu berjalan kaki menuju ke
rumahnya.
“Hai Valencia.”
“Hai.”
“Kenapa kau
sendirian saja? Kemana ayah dan ibumu? Dan dimana Jimmy?”
“Mereka semua
sedang pergi berlibur.”
“Berlibur?
Kenapa kau tidak ikut?”
“Tidak apa-apa.
Aku sedang malas untuk pergi jalan-jalan.”
“Oo… begitu.”
“Ya.”
Kami mengobrol
cukup lama di teras rumahnya. Tak lama kemudian Matthew pun mengajakku untuk
masuk ke dalam rumahnya. Rumah di perumahan ini terlalu bersar untuk Matthew
yang tinggal sendirian. Sama sepertiku.
Matthew berjalan
ke arah dapurnya lalu ia kembali sambil membawakanku sepiring kue cokelat dan
segelas susu cokelat hangat.
“Cicipilah. Ini
baru pertama kalinya aku membuat kue.” Ujar Matthew.
“Wow, ini
terlihat sangat enak! Aku coba satu ya,” aku mengambil satu potong kue itu dan
mencobanya.
“Bagaimana
rasanya?”
“Enak sekali.
Mungkin kelak kau akan menjadi koki yang handal.” Ujarku. Walaupun menurutku
ini masih kalah enak dengan sup daging manusia yang kubuat tadi.
“Wah, terima
kasih ya, kau adalah orang pertama yang mencoba kueku. Lain kali aku akan
mengirimkannya ke tetangga baru di sebelah rumahmu.” Kata Matthew.
“Benarkah? Apa
ada tetangga baru di sebelah rumahku?”
“Ada. Dia baru
pindah kesini kemarin pagi.” Kemarin pagi? Berarti mereka datang disaat aku
sedang membunuh ayah dan ibuku.
“Hei, kenapa
melamun? Ayo, habiskan kuenya. Ini masih ada banyak di dapur dan aku tidak tahu
bagaimana untuk menghabiskannya.” Ujar Matthew mengejutkanku.
“Maaf Matthew.
Aku pikir aku harus pulang sekarang.” Aku buru-buru beranjak dari sofa dan
bersiap untuk kembali ke rumah.
“Tunggu!” Matthew
menarik tanganku. “Apa boleh jika nanti malam aku bertamu ke rumahmu? Aku bosan
jika terus-terusan sendirian dirumah.”
“Tentu. Sampai
jumpan nanti malam.” Aku melepaskan genggaman tangannya dan segera pergi keluar
dari rumahnya.
“Jam 7 tepat aku
akan mengetuk pintu rumahmu!” kata Matthew. Aku mengacungkan jempolku ke
arahnya.
Sesampainya di
rumah aku langsung masuk kedalam dan menguncinya. Siapa tetangga baru itu? Aku
khawatir jika ia mendengar sesuatu dari rumahku kemarin pagi. Seperti teriakan
seseorang, ledakan pistol, atau semacamnya. Bagaimana jika nanti ia menelepon
polisi? Aaahhh… aku sangat bingung!
Baiklah,
baiklah. Mungkin aku harus berpikir positif. Aku harus meyakini diriku sendiri
bahwa kemarin ia tidak mendengar apapun dari rumahku. Huufftt… pikiranku agak
tenang sekarang. Tapi, kenapa tiba-tiba aku menjadi lapar? Aku merasa ingin
makan daging manusia lagi. Aku pun mengambil kapak dan berjalan ke arah gudang.
Aku memotong tangan sebelah kanan Synyster dan hendak menjadikannya sup. Apa?
Sup lagi? Tidak, tidak. Aku sudah bosan dengan sup itu. sekarang bagaimana? Apa
aku harus menggorengnya, atau membakarnya bersama bumbu-bumbu yang lezat, atau…
ah, itu semua terlalu ribet dan merepotkan. Lebih baik aku makan mentah saja.
Siapa tahu rasanya akan lebih enak.
Aku menggigit
punggung tangannya Synyster lalu mengunyahnya. Rasanya agak aneh. Teksturnya
sangat kenyal. Tapi lama-kelamaan aku menjadi ketagihan dan tanpa sadar aku
sudah menghabisi seluruh daging di tangannya. Ternyata ini lebih enak daripada
sup yang aku buat tadi.
Setelah
menyantap tangan mentah itu, aku pun menyimpan tulang-tulangnya di tempat
dimana aku juga menyimpan tulang-tulang Jimmy. Siapa tahu nanti bisa berguna,
pikirku. Kemudian aku berjalan menuju ke ruang tv dan menonton tv.
“Lima orang
gadis remaja di laporkan hilang. Di duga korban di culik oleh pembunuh yang
membunuh teman korban kemarin lusa. Polisi masih melacak keberadaan korban dan
pembunuh yang telah menculiknya. Berikut, lintas peristiwa, melaporkan.” Klik.
Kumatikan tv ku. Lalu aku membanting tubuhku ke sofa. Hm… siapa yang mau
menonton berita pembunuhan siang-siang begini? Lebih baik aku pergi ke balkon
saja.
Aku pun naik ke
loteng dan menuju ke balkon. Aku duduk di sana dan menikmati pemandangan siang
yang terik itu. Aku memandang ke arah rumah tetangga baru disebelah rumahku.
Tiba-tiba aku melihat seorang pria yang kira-kira berumur 23 atau 24 tahunan
keluar dari rumah itu. Ia sedang membuang sampah. Aku terus memperhatikannya. Ternyata ia sadar
bahwa aku memperhatikannya. Ia tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumnya.
Lalu ia kembali masuk ke rumahnya.
Aku tetap bersantai
di balkon itu. Sampai pada saat aku mendengar suara seseorang yang memanggilku.
“Hai nona cantik.”
Ujarnya. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata pria tadi itu
memanggilku melalui balkon rumahnya. Balkon rumah di perumahan ini cukup luas
sehingga pemilik rumah yang satu dengan yang lain dapat saling berhadapan satu
sama lain.
“Oh, hai.”
Jawabku.
“Boleh aku tahu
siapa namamu?”
“Namaku adalah
Valencia Cornellita Wilson. Dan kau?”
“Namaku Jonathan
Lewis Seward. Tapi kau boleh memanggilku Johnny. Aku baru pindah kemarin pagi.”
Kata Jonathan Lewis Seward alias Johnny.
“Oh ya? Kemarin
pagi? Apa kau mendengar suatu suara dari rumahku kemarin pagi?” tanyaku.
“Hah? Maksudmu?”
ia terlihat bingung dengan pertannyaanku. Syukurlah. Berarti ia tidak tahu apa
yang telah terjadi kemarin pagi.
“Oh, tidak apa.
lupakan saja.”
Johnny
tersenyum.
“Kau tinggal
sendiri?” tanyanya.
“Tidak. aku
tinggal bersama keluargaku dan satu kakak laki-lakiku. Tapi mereka semua sedang
pergi berlibur. Kau sendiri?”
“Aku tinggal sendiri
disini. Sebelumnya aku berniat untuk tinggal di apartemen, tapi aku rasa itu
agak kurang pas, jadi aku tinggal di perumahan saja. Lagi pula perumahan ini
sangat dekat dengan tempat kerjaku.”
“Kau bekerja
dimana?”
“Aku bekerja di
toko burger di sudut jalan saja. Lain kali datang ya ke toko itu. Nanti aku
akan memberimu diskon. Hahaha…” kata Johnny.
“Kalau gratis
baru aku mau. Hahahaha…” balasku.
“Hahaha… kau
ini.” Bip bip. Tiba-tiba jam tangan yang di pakai Johnny berbunyi.
“Baiklah. Aku
harus berangkat kerja sekarang. Daahh…”
“Daahh… sampai
ketemu besok.”
Johnny
melambaikan tangannya ke arahku. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Kemudian aku
melihatnya keluar rumah sambil merapikan seragam kerjanya. Ia menoleh ke arahku
lalu ia melambaikan tangannya lagi. Aku pun membalasnya. Setelah itu aku masuk
ke dalam rumah dan turun ke bawah.
Huaahh… aku
mengantuk sekali. Aku pun masuk ke dalam kamarku dan merebahkan diriku di
kasur. Tak lama kemudian aku tertidur lelap.
Tok, tok, tok,
tok. Samar-samar aku mendengar suara pintu rumahku di ketuk oleh seseorang. Aku
pun bangkit dari tempat tidur. Aku melirik jam di dinding. Ah, ternyata sudah
jam 7 malam. Itu pasti Matthew.
Aku keluar dari
kamarku dan membukakan pintu untuk Matthew. Namun ternyata aku salah. Yang
datang bukanlah Matthew.
“Selamat malam,
Valencia.” Itu adalah Johnny.
“Oh, hai Johnny.
Silakan masuk.”
Johnny masuk ke
dalam rumahku. Kami pun mengobrol di ruang tv.
“Ini, aku ingin
memberimu sesuatu.” Ia menyodorkan kantong kresek putih yang berisi 6 burger
yang masih hangat di dalamnya.
“Astaga,
seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Dan juga tadi aku hanya bercanda saja.”
Kataku.
“Tidak apa-apa
kok. Tadi bosku yang memberiku. Katanya sebagai bonus.” Jawab Johnny.
“Terima kasih,
ya.” Ucapku.
Tak lama
kemudian terdengar ketukan pintu lagi. Aku pun membukakannya. Kali ini dari
Matthew.
“Silakan masuk,
Matt.” Matthew masuk ke dalam rumahku.
“Hai, kau yang
tetangga baru di sebelah sini kan?” Matthew menunjuk Johnny.
“Ya, kau benar.
Dan kau yang tinggal di sebelah sini kan?”
“Ya, benar.
Padahal tadi aku baru saja ingin mengajak Valencia ke rumahmu untuk
mengantarkan ini.” Matthew menunjukkan tempat makan plastik yang di bawanya.
“Apa itu?” tanya
Johnny.
“Ini adalah kue
cokelat yang tadi kubikin. Cobalah.”
Johnny mencicipi
kue milik Matthew.
“Mm… lezat
sekali. Aku suka.”
Kami pun
mengobrol sambil memakani kue yang di bawakan Matthew dan burger yang di bawa
Johnny. Sementara aku hanya menyediakan bir saja. Lagi pula stok bir ayahku
masih banyak.
“Ayo, dimakan
burgernya. Ini enak loh,” kata Johnny sambil mengelarkan burgernya.
“Baiklah. Kucoba
satu ya,” Matthew mengambil salah satu burger dan membuka bungkusannya. Begitu
pula denganku dan Johnny.
“Enak kan?” tany
Johnny.
“Enak sekali.”
Jawabku.
“Ya, benar.
dagingnya terbuat dari daging apa?” tanya Matthew.
“Dari daging
sapi.” Kata Johnny.
“Oh, aku pikir
daging manusia. Hahahaha…” canda Matthew sambil tertawa menunjukkan lesung
pipinya.
“Tidak. Daging
manusia tidak seperti ini rasanya. Daging manusia jauh lebih enak.”
celetukku. Matthew dan Johnny terkejut.
“Maksudmu?”
tanya Matthew.
“Hahaha… kau
pasti bercanda kan? Haha..” ujar Johnny. Aku menatap mereka dengan tatapan
serius.
“Aku tidak
bercanda.” Kataku. Matthew dan Johnny saling berpandangan lalu mereka tertawa.
Ya sudah. Terserah mereka saja mau percaya atau tidak. Yang pasti nanti aku
akan membuktikannya pada mereka bahwa rasa daging manusia itu lebih enak.
Kami mengobrol
seperti biasa lagi. Tiba-tiba aku merasa mual. Aku pun menghentikan makanku.
“Kenapa
Valencia?” tanya Matthew.
“Tidak apa-apa.
Aku hanya merasa mual. Mungkin aku kekenyangan.” Jawabku.
“Kekenyangan?
Kau kan baru menghabiskan setengahnya.” Kata Johnny.
“Tidak-tidak.
Aku tidak bisa memakannya lagi. Kalau dipaksa, bisa-bisa aku muntah.” Kataku.
Kenapa ini? Tumben sekali aku merasa mual di saat sedang makan. Biasanya aku
tidak seperti ini. Apa karena aku kebanyakan makan daging manusia?
“Ya sudah, kalau
begitu minum saja yang banyak. Supaya tidak mual lagi.” Matthew memberikanku
sekaleng bir. Aku langsung meminumnya. Setelah itu aku agak merasa lebih baik.
Waktu berlalu
dan terus berlalu. Tak terasa sudah tengah malam. Johnny dan Matthew sudah
tertidur pulas di sofaku. Mereka bilang, mereka sudah terlalu mengantuk dn
malas pulang kerumah jadi mereka memutuskan untuk tidur di rumahku saja.
Mualku sudah
berhenti. Tapi sekarang aku lapar. Aku pun mencoba menghabiskan sisa burgerku
tadi. Tapi tiba-tiba aku merasa mual lagi. Aku pun heran. Apakah burger ini ada
racunnya? Ah, tidak mungkin. Kalaupun ada, pasti Johnny dan Matthew juga kena.
Aku pun pergi ke
dalam gudang untuk mengambil daging manusia. Tercium bau busuk yang sangat
menyengat dari dalam gudang saat aku membuka pintunya. Itu pasti berasal dari
mayat ibu dan ayahku. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku memotong lengan kiri
Synyster lalu menyantapnya. Anehnya, kini aku tidak merasa mual. Aku pun
menyantap daging Synyster hingga kenyang. Sesudah itu aku kembali ke ruang tv
dan berbaring di sebelah Johnny dan Matthew. Terbesit di pikiranku untuk
membunuh mereka berdua malam ini. Tapi aku mengurungkannya. Aku tidak ingin
terburu-buru membunuh mereka. Tapi yang jelas aku pasti akan membunuh mereka
suatu hari nanti dan merasakan daging mereka yang lezat itu. Tanpa kusadari aku
telah menelan ludah berkali-kali membayangkan bagaimana daging mereka yang ku
santap. Astaga, itu pasti sangat lezat!
Hari-hari
berlalu. Makanan sehari-hari yang kumakan bukan makanan biasa lagi. Melainkan
daging manusia. Karena aku akan merasa mual jika memakan makanan yang lain
selain daging manusia. Beruntung aku masih punya sedikit stok daging mausia di
rumahku yaitu sisa daging Zacky karena daging Synyster sudah habis ku makan.
Sedangkan daging ayah dan ibuku sudah membusuk. Jadi aku tidak mau memakannya.
Hari ini aku di
kejutkan oleh kedatangan Johnny dan Matthew di depan rumahku sambil membawa kue
ulang tahun dan kado. Siapa yang ulang tahun? Oh, astaga, aku lupa bahwa hari
ini adalah hari ulang tahunku. Aku pun menghampiri mereka sambil membawa pisau
dapur yang ku sembunyikan di balik tubuhku.
“Selamat ulang
tahun, Valencia.” Kata Matthew dan Johnny sambil masuk ke dalam rumahku.
“Astaga, bahkan
aku sendiri lupa bahwa hari ini aku ulang tahun.” Balasku.
“Hahaha… untung
saja aku ingat.” Ujar Matthew.
“Ayo, tiup
lilinnya dan buat permintaan.” Kata Johnny.
Aku tersenyum ke
arah mereka berdua. Lalu aku berbisik ke pada mereka,
“Kalian tahu apa
yang ku inginkah di ulang tahunku kali ini? Aku ingin DAGING.” Bisikku.
“Kau ingin
daging? Baiklah, ayo sekarang kita ke supermarket dan membeli beberapa daging
untukmu.” Ajak Matthew.
“Bukan, aku
tidak mau daging yang di supermarket.”
“Jadi? Kau ingin
daging apa? apa kau ingin daging burger?” tanya Johnny.
“Bukan, aku
ingin daging kalian. Daging manusia.” Bisikku lagi.
“Hahaha… kau
pasti bercanda.” Kata Matthew.
“Aku serius.”
Aku menunjukkan pisau yang tadi ku sembunyikan di balik tubuhku pada mereka.
Mereka berdua sangat terkejut. Matthew menjatuhkan kue ulang tahun yang di
bawanya lalu ia mencoba menjauh dariku. Begitu pula dengan Johnny.
“Valencia, apa
yang kau lakukan? Letakkan pisau itu, atau aku akan panggil polisi!” ancam
Matthew sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya. Aku berjalan
mendekati meja lampu ruang tv lalu mengambil pistol di lacinya.
“Letakkan handphonemu
sekarang!” balasku. Mereka semakin ketakutan lalu Matthew meletakkan
handphonenya dan bergerak mundur. Sementara itu aku terus berjalan menghampiri
mereka.
“Kalian tahu?
Aku sudah lama sekali ingin mencicipi daging kalian yang enak itu. dan ternyata
keinginanku bisa tercapai. Bahkan di hari ulang tahunku.”
“Valencia,
tolong jangan…” kata Johnny.
“Val, kumohon…”
tambah Matthew.
“Maafkan aku
teman-teman. Tapi malam ini aku lapar sekali.” DOR! Aku menembakkan pistol ke
dada Matthew. Tubuhnya jatuh dan tewas seketika.
“Sekarang
giliranmu, Johnny.”
Aku mulai
menghampiri Johnny namun ia segera berlari ke arah halaman belakang. Aku pun
segera mengejarnya sebelum ia kabur dari rumahku.
Kemana dia? Aku
tidak menemukannya disini. Aku memanggil-manggil namanya tapi dia tidak
menyahut sekalipun. Tiba-tiba aku merasa suatu benda yang keras menghantam
tengkukku. Aku tidak tahu benda apa itu, yang jelas itu terasa sangat sakit.
Aku pun terjatuh dan melihat Johnny berlari ke atas loteng sambil membawa tongkat
bisbol. Sial, rupanya ia ingin bermain-main denganku. Aku pun berdiri sabil
meraba tengkukku yang masih terasa nyeri. Aku berjalan ke arah gudang dan
mengambil kapak disana dan mencari Johnny lagi.
“Johnny, dimana
kau? Keluarlah, aku berjani tidak akan marah padamu.” Kataku. “Kau ini sama
seperti temanku, mencoba bersembunyi disini. Memangnya kau pikir aku tidak tahu
dimana kau bersembunyi, hah?”
Aku membuka
bekas kamarku dan menyalakan lampunya. Tapi aku tidak menemukan apapun disana.
Tapi aku tetap masuk kedalam kamar itu dan mengunci pintunya sebab aku curiga
bahwa Johnny sedang bersembunyi di dalam lemari.
“Kena kau!”
seruku sambil membuka pintu lemari. Tapi aku tidak menemukan Johnny di sana.
Hmm… dia mencoba menipuku. Namun tiba-tiba aku melihat sepasang kaki bersepatu
laki-laki sedang terjulur dari bawah kolong ranjang. Tidak salah lagi ini pasti
Johnny!
“Kau memang
pintar bersembunyi, Johnny!” ujarku sambil menarik kakinya keluar.
“Aaaa… kumohon,
jangan Valencia, jangan bunuh aku.” Jeritnya.
“Terlambat,
Johnny.”
Johnny menarik
kakinya dari genggamanku dan mencoba untuk membuka pintu yang sudah ku kunci.
“Johnny, kau
butuh kunci untuk membukanya. Ini dia,”
Aku merogoh
kunci yang ku tarus di saku celanaku dan hendak memberikannya kepada Johnny.
Tapi aku menariknya kembali dan langsung mengayunkan kapakku dan membelah tepat
dilehernya. Kepalanya melayang menghantam dinding dan tubuhnya ambruk ke
lantai. Aku meletakkan kapakku dan membawa tubuh dan kepalanya turun dari
loteng lalu meletakkan tubuhnya tepat di sebelah tubuh Matthew. aku juga
memenggal kepala Matthew dan meletakkannya sejajar dengan kepala Johnny. Aku
memotong-motong tubuh mereka lalu menyimpannya di kulkas. Sebagian dari itu
sudah ku jadikan makan malamku yang lezat. Sementara itu kepala mereka berdua
kupajang di ruang tengah.
“Terima kasih,
Matthew, Johnny. Berkat kalian aku tidak akan kelaparan lagi.”